<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Raisyadila's Weblog</title>
	<atom:link href="http://raisyadila.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://raisyadila.wordpress.com</link>
	<description>My e-di@ry for our World</description>
	<lastBuildDate>Thu, 19 Nov 2009 08:23:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='raisyadila.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/6ab401f6290a9d0dd38e244ae7f9a2d5?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Raisyadila's Weblog</title>
		<link>http://raisyadila.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://raisyadila.wordpress.com/osd.xml" title="Raisyadila&#039;s Weblog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://raisyadila.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>I Love U Dearest</title>
		<link>http://raisyadila.wordpress.com/2009/11/19/i-love-u-dearest/</link>
		<comments>http://raisyadila.wordpress.com/2009/11/19/i-love-u-dearest/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Nov 2009 08:23:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>raisyadila</dc:creator>
				<category><![CDATA[Curhat]]></category>
		<category><![CDATA[diary]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://raisyadila.wordpress.com/?p=495</guid>
		<description><![CDATA[Seperti biasa dengan suka cita aku bersama 2 putriku, kami dengan mengendari mobil brengkat menjemut kakak mereka ( anak pertamaku) ke sekolahnya. Ternyata siang ini hujan deras sekali. kujemput putraku di depan kelasnya. Satu2 anak2 keluar kelas. Lalu anakku. Namun hari ini tidak seperti biasanya bagi putraku. Dia menghampiriku dan mengucapkan salam sambil salim dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisyadila.wordpress.com&amp;blog=4206267&amp;post=495&amp;subd=raisyadila&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seperti biasa dengan suka cita aku bersama 2 putriku, kami dengan mengendari mobil brengkat menjemut kakak mereka ( anak pertamaku) ke sekolahnya. Ternyata siang ini hujan deras sekali. kujemput putraku di depan kelasnya. Satu2 anak2 keluar kelas. Lalu anakku. Namun hari ini tidak seperti biasanya bagi putraku.<span id="more-495"></span> Dia menghampiriku dan mengucapkan salam sambil salim dengan wajah yang sedih&#8230;.</p>
<p>Ya Alloh&#8230; baru hari ini saya lihat putraku keluar kelas dengan wajah sedih. Ku tanya&#8230; &#8220;ada pa a? dia malah menangis&#8230; ku tanyakan sekali lagi, &#8220;ada apa a? ujiannya susah ya?&#8221; dia menangis sambil mengangguk lemas&#8230;</p>
<p>Astaghfirullohal&#8217;adziim&#8230; ternyata ketika anak disiapkan untuk menghadapi unjian, ternyata dia malah tegang. Sehingga apa yang sudah dipelajarinyapun terlupakan&#8230; Saat ujian2 sebelumnya dia tidak ku paksa untuk belajar, cukup membaca saja (asal ada gambaran saja), Alhamdulillah dia menjalaninya dengan tenang, senang dan nyaman. Hasil2nyapun tidak mengecewakan.</p>
<p>Maafin mama ya sayang&#8230; mungkin mama terlalu memaksakan kehendak mama. Tapi mama hanya tidak ingin antum minder disaat teman2 antum sudah lebih maju. Maaf ya naak&#8230;</p>
<p>Yang sudah terjadi&#8230; biarlah. Ga usah bersedih lagi ya naak&#8230;. Kecewa wajar. Mama tahu antum sudah berusaha. Mulai sekarang&#8230; kita berusaha bersama ya&#8230; antum juga harus mau berusaha jika antum tidak ingin tertinggal&#8230;. Kita sama2 belajar ya naak&#8230;.</p>
<p>Mama sayang antum kok&#8230;. smile y&#8230; <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/raisyadila.wordpress.com/495/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/raisyadila.wordpress.com/495/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/raisyadila.wordpress.com/495/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/raisyadila.wordpress.com/495/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/raisyadila.wordpress.com/495/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/raisyadila.wordpress.com/495/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/raisyadila.wordpress.com/495/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/raisyadila.wordpress.com/495/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/raisyadila.wordpress.com/495/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/raisyadila.wordpress.com/495/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/raisyadila.wordpress.com/495/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/raisyadila.wordpress.com/495/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/raisyadila.wordpress.com/495/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/raisyadila.wordpress.com/495/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisyadila.wordpress.com&amp;blog=4206267&amp;post=495&amp;subd=raisyadila&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://raisyadila.wordpress.com/2009/11/19/i-love-u-dearest/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0fa01587e5869bcd7872b1a5acb3b6cf?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">raisyadila</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sholat Khusyu Itu Mudah</title>
		<link>http://raisyadila.wordpress.com/2009/11/13/sholat-khusu-itu-mudah/</link>
		<comments>http://raisyadila.wordpress.com/2009/11/13/sholat-khusu-itu-mudah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 13:11:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>raisyadila</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://raisyadila.wordpress.com/?p=490</guid>
		<description><![CDATA[Sebelumnya saya ga ngerti bagaimana untuk menggapai sholat khusyu. Tapi sejak dapat makalah ini&#8230; Alhamdulillah&#8230;. sholat jadi lebih mudah. Walau untuk menggapai kekhusyuan itu saya harus lebih banyak berlatih lagi. Tapi tidak ada salahnya sambil saya belajar, saya juga ingin bisa berbagi dengan yang lain Marilah kita sama-sama terus berusaha menggapai kekhusyuan itu. Smoga makalah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisyadila.wordpress.com&amp;blog=4206267&amp;post=490&amp;subd=raisyadila&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Sebelumnya saya ga ngerti bagaimana untuk menggapai sholat khusyu. Tapi sejak dapat makalah ini&#8230; Alhamdulillah&#8230;. sholat jadi lebih mudah. Walau untuk menggapai kekhusyuan itu saya harus lebih banyak berlatih lagi. Tapi tidak ada salahnya sambil saya belajar, saya juga ingin bisa berbagi dengan yang lain Marilah kita sama-sama terus berusaha menggapai kekhusyuan itu. Smoga makalah di bawah ini bermanfaat&#8230;..<span id="more-490"></span><strong>SHOLAT KHUSYU ITU MUDAH</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Suatu siang Hj. Aliyah (almarhumah) datang ke rumah untuk mengajar mengaji bagi istri saya dan beberapa temannya. Kebetulan hari itu saya sedang ijin kantor untuk masuk siang karena ada suatu keperluan. Kebetulan pula, Beliau sudah beberapa kali ingin bertemu saya untuk menanyakan masalah sholat khusyu yang setiap bulan diajarkan oleh ustadz Abu Sangkan di <em>Islamic Center Bekasi</em>, ketika itu. Karena Beliau adalah seorang ustadzah yang sudah banyak mengerti hakikat dan aturan sholat, maka tidak banyak hal lagi yang saya sampaikan. Saya hanya meneruskan apa yang saya ingat dari apa yang pernah disampaikan ustadz Abu Sangkan, terutama bagaimana kita bersikap dan berdialog dengan Allah ketika kita sholat. Tidak lama hanya sekitar 15 menit tapi terasa Beliau langsung “nyambung” dengan yang saya sampaikan. Setelah itu saya ajak Beliau shalat Dhuhur berjamaah. Dalam shalat itu sengaja saya panjangkan setiap gerakan sholat terutama rukuk dan sujud. Tak lama setelah selesai sholat dan berdzikir sejenak dengan badan agak gemetar Beliau berkata “kok cepat betul sholatnya<em> ?</em>”. Saya hanya tersenyum sambil melihat ke jam dinding dan mengatakan “Maaf saya tidak bisa lebih lama lagi karena harus segera ke kantor, tapi tadi kita shalat selama hampir 20 menit”. “Ah yang betul<em> ?</em>” kata Beliau tak percaya. “Bagaimana rasanya Bu ?”, tanya saya. “Kalau nggak malu saya sudah nangis sekarang”, jawabnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada waktu lainnya, ketika bertugas ke Semarang saya sempatkan mampir ke rumah mendiang nenek saya. Ketika adzan Maghrib berkumandang saya pun pergi ke masjid As Salam yang ada di seberang rumah. Oleh imam masjid tersebut, saya diminta untuk menjadi imam sholat. Mungkin ingin menghormati kedatangan saya di sana. Sebetulnya saya agak segan menerimanya. Selain bacaan Al-Qur’an saya kurang fasih, aksennya terlalu “Indonesia”, juga karena saya khawatir tempo sholat saya yang agak lama akan membuat jamaah menjadi tidak nyaman. Apalagi ditambah dengan suasana desa yang sejuk dan tenang. Karena itu sebelum sholat dimulai, saya memberikan sedikit pengantar yang kira-kira kalimatnya di begini :</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“</em>Maaf saya kalau shalat agak lama, bukan bacaannya yang panjang hanya sekedar ingin mempraktekkan <em>thuma’ninah</em>. Ketika rukuk saya tidak buru-buru membaca tapi saya tundukkan dulu pikiran saya, hati saya dan jiwa saya. Setelah semua terasa tunduk baru saya memuji Alloh – <em>subhaana rabbial aziimi</em>. Demikian pula ketika sujud, saya sujudkan pikiran, hati dan jiwa saya. Setelah semua terasa bersujud merendah kepada Alloh, baru saya tinggikan Alloh – <em>subhaana rabbial a’ala</em>. Ketika duduk diantara dua sujud saya sampaikan permohonan saya kepada Alloh dengan rendah hati dan satu persatu<em>”.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Lalu saya pun memimpin sholat dengan tenang. Setelah selesai sholat dan berdzikir sejenak, saya melihat beberapa orang di shaf depan masih tetap tertunduk dalam, tak mampu segera bangkit untuk mengubah posisi duduk tahiyyad akhirnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Kedua peristiwa semakin meyakinkan saya bahwa khusyu adalah bukan sesuatu yang mustahil bagi kita manusia awam, bahkan suatu yang mudah diperoleh.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>KEGAGALAN MERAIH KHUSYU</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Selama ini, kita selalu berpendapat bahwa khusyu itu sangat sulit dicapai. Ketika shalat pikiran sering pergi kemana-mana. Karena itu, lalu bermunculanlah cara mengatasinya yaitu dengan konsentrasi. Konsentrasi pikiran seolah-olah telah menjadi kunci mencapai khusyu. Maka tidak mengherankan jika pelajaran shalat khusyu pada umumnya ditujukan untuk membantu mengarahkan konsentrasi pikiran seperti misalnya melihat titik ditempat sujud, menerjemahkan bacaan, menghadirkan Alloh, dan lain-lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Cara-cara tersebut terlihat meyakinkan tetapi kenyataannya tidak memberi terlalu banyak manfaat. Melihat tempat sujud membantu agar pandangan kita tidak melirik kekiri dan kanan, tetapi tidak mampu menahan pikiran kita yang suka melompat ke kiri dan kanan. Jika khusyu dapat diperoleh dengan mengerti arti bacaannya, ketika saya pergi ke Mekah ternyata orang-orang Arab pun terlihat tidak lebih khusyu daripada kita. Ada yang matanya melirik ke kiri-kanan, ada yang sibuk merapihkan tutup kepalanya dan lain-lain. Padahal mereka tentu mengerti arti bacaannya. Mencoba “menghadirkan’ Allah malah menambah kebingungan kita sendiri. Di dalam Al Qur’an dinyatakan, bahwa Allah tidak bisa diserupa-kan apapun juga (<em>QS Asy Syuura [42]:11</em>). Jadi apapun yang kita bayangkan mengenai wujud Alloh, maka itu pasti salah. Anehnya cara-cara tersebut, meskipun terbukti gagal sebagai metoda mencapai khusyu, tetapi terus-menerus diajarkan oleh orang tua ke anak-nya, oleh guru ke muridnya, demikian dari generasi ke generasi. Agak konyol memang.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika usaha khusyu melihat konsentrasi gagal, maka muncullah persyaratan-persyaratan lain. Ada yang mengatakan, bahwa untuk khusyu kita harus suci, bersih dari perbuatan dosa. Persyaratan ini sempat pula membuat saya pesimis, karena ternyata banyak ustadz-ustadz yang saya kenal secara pribadi sebagai orang yang sholeh, bisa berbahasa Arab, tinggi ilmu agamanya, ternyata mengalami masalah pula dengan shalat khusyu. Kalau mereka saja yang tinggi ilmu agamanya, banyak berdzikir dan menjaga perbuatannya saja sering tidak khusyu, bagaimana dengan saya ?.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>MENDADAK KHUSYU</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin telah banyak usaha dan cara untuk khusyu telah kita lakukan tetapi tetap saja tidak berhasil. Anehnya, tiba-tiba kita bisa mendadak khusyu. Ketika kita tertimpa musibah yang hebat, tiba-tiba saja kita bisa shalat dengan khusyu, lalu berdoa sambil mngucurkan air mata. Padahal ketika itu kita justru lupa dengan segala macam teori mengenai shalat khusyu. Kita shalat tanpa berkonsentrasi. Kita juga lupa memperhatikan titik di tempat sujud, tapi hati dan pikiran kita tidak pernah lepas mengarah ke Allah. Kita belum sepenuhnya memahami arti bacaan dalam bahasa Arab, tapi malah terasa Allah begitu dekat. Ketika itu dosa kita tidak lebih sedikit dari sebelumnya, malah mungkin kita baru saja melakukan perbuatan dosa besar sehingga kita sangat menyesal, tapi terasa Allah menyambut shalat dan doa kita. Saat ketika kita tidak menggunakan ilmu khusyu, saat itu justru kita bisa shalat dengan khusyu. Keadaan ini bisa terjadi kepada siapa saja, dari mahzab dan aliran apa saja. Kepada ulama, orang awam ilmu agamanya, cendekiawan, orang yang kurang berpendidikan, orang kaya, orang miskin, bahkan kadang kepada orang yang jarang shalat sekali pun.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>APA GERANGAN YANG MEMBUAT  ITU BISA TERJADI ?</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Salah satunya adalah <span style="text-decoration:underline;">sikap dalam menghadap kepada Alloh</span>. Ketika kita tertimpa musibah, maka kita datang kepada Alloh dengan merendahkan diri sungguh-sungguh mengharapkan pertolongan Alloh. Kita menjadi tersadar, hanya Alloh-lah yang dapat mengatasi masalah kita dan mengabulkan doa kita. Sebaiknya ketika kita sedang jaya, tidak kekurangan suatu apapun, sikap itu sudah tidak ada lagi. Biasanya kita shalat dan do’a hanya sekedar untuk menggugurkan kewajiban saja. Seolah-olah Alloh-lah yang membutuhkan shalat dan do’a kita.</p>
<p style="text-align:justify;">Musibah diturunkan tidak lain agar kita selalu datang dengan merendahkan diri kepada Alloh. Sikap yang akan membuat kita khusyu. Sayang kita selalu lalai terhadap pelajaran yang Allah berikan kepada kita itu, meskipun Allah telah memberikannya berkali-kali.</p>
<p style="text-align:justify;">“Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya ; kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya lupalah dia akan kemudharatan yang pernah dia berdoa (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum itu”</p>
<p style="text-align:justify;">(QS Az`Zumar [39] : 8).</p>
<p style="text-align:justify;">“Dan sesungguhnya kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri”. (QS Al An’aam [6] : 42).</p>
<p style="text-align:justify;">“Dan tidakkah mereka memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun dan mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran”.  (QS At Taubah [9] : 126<em>)</em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>PEKA DAN TANGGAP LINGKUNGAN</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Banyak orang mendefinisikan khusyu dengan menggunakan acuan peristiwa Syaidinna Ali ketika kakinya terkena anak panah. Ketika anak panah tersebut akan dicabut. Beliau mengerang tak kuat menahan sakit, sehingga para sahabat tak tega mencabutnya. Lalu beliau shalat dengan khusyu. Dan ketika shalat itu, anak panah dicabut tanpa Syaidinna Ali merasakan kesakitan.</p>
<p style="text-align:justify;">Peristiwa tersebut sangat populer dan memberikan kesan yang kuat bahwa salah satu tanda sholat yang khusyu adalah seseorang tidak lagi merasakan sakitnya luka. Seolah-olah ketika sholat dengan khusyu, kita bisa lepas dari alam dunia. Tidak merasakan apa-apa dan tidak memikirkan apa-apa lagi. Kesan ini diperkuat lagi oleh ceritra tentang satria yang sedang bersemedi di dalam kisah perwayangan. Diganggu jin dan gendruwo tidak gentar, dikelilingi binatang buas diam saja, dirayu bidadari cantik tidak tergoda. Tahan tidak makan dan minum berhari-hari lamanya. Apakah shalat khusyu harus seperti itu ? Siapa orang yang paling khusyu shalatnya di dunia ini. Pasti kita sepakat, bahwa Nabi Muhammad SAW adalah orang yang paling khusyu shalatnya.  Marilah kita melihat bagaimana Rosululloh melakukan sholatnya ;</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Ketika Nabi sedang memimpin sholat, tiba-tiba terdengar tangis anak kecil. Beliau pun mempercepat sholatnya takut terjadi sesuatu dengan anak itu.</li>
<li>Ketika sedang shalat Nabi melihat ada binatang berbisa mendekat. Beliau pun menghentikan shalat untuk membunuh binatang tersebut, lalu meneruskan kembali shalatnya.</li>
<li>Pada suatau saat setelah selesai sholat berjamaah. Nabi tidak berdzikir sebagaimana biasanya, tetapi segera bergegas pulang. Ketika telah kembali ke masjid. Beliau ditanya oleh sahabatnya mengenai ketergesaan itu. Beliau mengatakan bahwa ketika shalat, Beliau ingat ada sedekah yang belum dibagikan. Karena itu Beliau segera pulang agar dapat membagikan sedekah tersebut secepatnya.</li>
<li>Ketika sedang berperang Nabi mengajarkan shalat khauf. Shalat berjamaah yang dilakukan dengan cara yang unik karena harus tetap dalam kondisi siaga terhadap serangan musuh.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Dari beberapa riwayat tersebut, ternyata ketika shalat. Nabi selalu peka dan tanggap kepada lingkungannya<span style="text-decoration:underline;">.</span> Beliau tetap mendengar dan melihat apa yang terjadi di sekelilingnya. Lintasan-lintasan pikiran pun tetap ada ketika Beliau shalat. Bahkan jika ada masalah. Beliau mengajarkan kepada kita untuk shalat 2 rakaat. Artinya ketika shalat, Beliau bukan melupakan suatu masalah, tetapi malah sengaja membawa masalah tersebut dalam shalatnya untuk disampaikan kepada Alloh agar diberikan jalan keluarnya. Apa yang Beliau ajarkan sesuai dengan apa yang diperintahkan di dalam Al-Qur’an.</p>
<p style="text-align:justify;">“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu, sesungguhnya Alloh beserta orang-orang yang sabar”.</p>
<p style="text-align:justify;">(QS A-Baqoroh [2] :153).</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>KHUSYU MENURUT AL QUR’AN</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kita Sering mengasosiasikan khusyu dengan kontemplasi semedi atau meditasi yang biasa dilakukan dalam praktek ritual agama lain. Kita menjadi lupa untuk menggali bagaimana Al-Qur’an menjelaskan mengenai khusyu.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya”. (QS Al Baqarah [2] : 45-46)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dari kedua ayat tersebut dapat disimpulkan khusyu bukanlah konsentrasi tetapi <strong>keyakinan sedang mengahadap Alloh.</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Keyakinan sangat mempengaruhi sikap seseorang. Orang yang yakin di pohon kamboja ada hantunya, maka dia akan ketakutan jika malam-malam lewat di bawahnya. Sebaliknya jika orang tersebut berkeyakinan pohon kamboja adalah pohon yang indah, maka orang tersebut justru menemukan kesenangan di bawahnya. Dia akan memungut bunga-bunga yang berguguran untuk diselipkan ditelinga, dibuat rangkaian bunga atau diletakkan mengapung dalam kolam air.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebetulnya kata yang diterjemahkan sebagai “yakin” pada ayat di atas bukanlah berasal kata “yaqin” tetapi berasal dari kata “zon” – yazunnuuna. Zon sebetulnya lebih sering diterjemahkan sebagai “sangkaan” sebagaimana halnya kata “husnuzon” dan “su’uzon”. Ada pula mengartikan sebagai “menduga dengan kuat”. Yang pasti tingkat keyakinan atau kepastian akan terjadinya sesuatu yang menggunakan kata “zon” berada di bawah kata “yaqin”. Jika kata “yaqin” bisa dikatakan 90%-100% sesuatu itu akan terjadi maka kata “zon” tingkat kepastiannya mungkin hanya 70%-90%.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam tata bahasa Arab berdasarkan waktu berlangsungnya suatu kegiatan kata kerja terdiri dari 2 bentuk, yaitu <em>fi’il maadhi</em> dan <em>fi’il mudhaari</em> merupakan kata kerja bentuk lampau (<em>past</em>) sedang <em>fi’il mudhaari</em> adalah kata kerja untuk kegiatan yang sedang berlangsung saat ini (<em>present continuous</em>), masa depan (<em>future</em>) dan juga untuk kegiatan yang berulang-ulang. Kata kerja yang ada pada surat Al-Baqoroh ayat 46, yaitu “<em>yazunnuu</em>” menggunakan <em>fi’il mudhaari</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Kata “menemui” (<em>mulaaquu</em>) dan “kembali” (<em>raaji’uun</em>) adalah kata pelaku dari kegiatan tersebut (<em>isim fa’il</em>), sama dengan kata “orang-orang yang khusyu” (<em>khaasyi’un</em>). Kata ini tidak menunjukkan kapan waktu kegiatan tersebut dilakukan. Bisa lampau sekarang ataupun yang akan datang. Kebanyakan terjemahan Al Qur’an dalam bahasa Indonesia memilih menterjemahkannya “<em>khaasyi’un</em>” (orang yang khusyu) tanpa menggunakan kata “akan”,</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><em>“</em>sambil <span style="text-decoration:underline;">menundukkan</span> pandangan-pandangan mereka keluar dari kuburan seakan akan mereka belalang yang berterbangan” (QS. Al-Qomar [54] : 7).</li>
<li><em>2. </em><strong><span style="text-decoration:underline;">Rendah dan tenang</span></strong><em> : </em><em>“Dan <strong>merendahlah</strong> semua suara kepada Rabb yang Maha Pemurah, maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja” (QS Thaahaa [20] : 108)</em></li>
<li><em>3. </em><strong><span style="text-decoration:underline;">Merendah dan menundukkan diri</span></strong><em> : </em><em>“ Kalau sekiranya kami turunkan Al Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya <strong>tunduk</strong> terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu kami buat untuk manusia supaya mereka berfkir” (QS Al Hasyr [59] : 21). “(dalam keadaan) pandangan mereka <strong>tunduk</strong> ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguh-nya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, dan mereka dalam keadaan sejahtera”. (QS Al Qalam[68] : 43)</em></li>
<li><em>4. </em><strong><span style="text-decoration:underline;">Kering dan mati</span></strong><em> : </em><em>“ Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya (ialah) bahwa engkau lihat bumi <strong>kering dan gersang</strong>, maka kami turunkan air diatasnya, niscaya ia bergerak dan subur” (QS Fushshilat [41] : 39)</em></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan ayat-ayat tersebut di atas, maka untuk mendapatkan rasa khusyu kita hanya perlu bersikap seolah-olah ketika shalat kita sedang berhadapan dengan Alloh dan berserah diri kepada-Nya. Sikap yang patut kita lakukan ketika menghadap Alloh adalah tenang, menundukkan pandangan dan merendahkan diri serendah-rendahnya. Sikap yang sepatutnya dilakukan oleh seorang hamba yang hina dihadapan Tuhan semesta alam. Tuhan Yang Maha Agung. Seperti sikap bumi yang kering kerontang dimusim kemarau mengharapkan pertolongan dari Alloh swt dalam bentuk curahan hujan agar dapat kembali subur makmur.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>SIAPKAN DIRI UNTUK KHUSYU</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Melalui tulisan ini saya ingin mengajak Anda untuk memahami teori dasar mengenai shalat khusyu dan melatih sikap-sikap yang diperlukan ketika kita shalat. Latihan-latihan yang ada di dalam buku ini sangat penting untuk dilakukan. Rangkaian kata dan kalimat pada tulisan tidak akan mampu menjelaskan dengan baik apa yang saya rasakan. Dengan melakukan latihan diharapkan Anda dapat merasakan suasana-suasana khusyu yang diperoleh dari sikap-sikap tersebut sehingga akan lebih memahami apa yang saya utarakan. Seperti halnya jika kita ingin menjelaskan rasanya durian kepada orang Rusia yang belum pernah makan buah durian sama sekali. Peluang terjadinya perbedaan persepsi sangat besar karena keterbatasan perbendaharaan kita, perbedaan idiom dan perbedaan pengetahuan. Rasa buah durian menjadi mudah dipahami dan tidak ada perbedaan persepsi, jika kita meminta dia untuk ikut memakannya karena itu, <strong>latihan harus dilakukan pada tiap-tiap tahapan sebelum Anda melanjutkan bacaannya</strong>. Jangan dilewatkan begitu saja latihan-latihan tersebut diluar shalat. Setelah kita paham bagaimana melakukannya, maka kita tinggal membawa dalam sholat. Tidak ada dalil ataupun teori baru yang melandasi latihan-latihan tersebut. Saya yakin Anda pernah mendengarnya, hanya mungkin jarang di praktekan dalam kegiatan shalat.</p>
<p style="text-align:justify;">Tulisan ini akan lebih berdaya guna jika Anda dapat menyelesaikan seluruh bacaan dan latihannya dalam satu kesempatan sekaligus. Karena itu, lakukanlah persiapan sebelum membaca halaman-halaman berikut ini. <strong>Luangkan waktu sekitar 2 jam</strong>. Kenakan pakaian yang bersih dan carilah tempat yang tenang sehingga Anda dapat melakukannya dengan baik. Sebaknya Anda berwudhu dulu, sehingga setelah selesai membaca Anda dapat langsung mencobanya dengan melakukan shalat sunah.</p>
<p style="text-align:justify;">Mudah-mudahan Alloh berkenan menurunkan rasa khusyu itu kepada kita semua. Aamiin.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>BAB 1 :  KESADARAN BERKETUHANAN</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sebelum kita membahas shalat khusyu lebih jauh mari kita mulai latihan kita dengan berdzikir terlebih dahulu dengan menyebut nama Allah sebagaimana latihan di bawah ini.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;">LATIHAN  1</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Setelah melakukan shalat, kita disunahkan untuk berdzikir :</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar</em></strong> masing-masing 33 kali.</p>
<p style="text-align:justify;">Sekarang lakukan dzikir, tetapi lafadznya diganti menjadi :</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Alloh, Alloh, Alloh</em></strong> sebanyak 33 kali.</p>
<p style="text-align:justify;">Silahkan dimulai !.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>STOP !</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Jangan melanjutkan membaca sebelum melakukan latihan di atas.</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Setelah selesai berdzikir sebagaimana latihan 1, apa yang Anda rasakan? Apakah ada rasa “seerrr” di dada Anda? Apakah Anda seperti mau menangis? Apakah dada Anda terasa seperti bergetar? Atau malah biasa saja rasanya ? Tidak terasa apa-apa.</p>
<p style="text-align:justify;">Simpan dulu jawaban Anda.  Mari kita lanjutkan pembahasan kita.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>3 GOLONGAN MANUSIA</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pada setiap roka’at sholat, kita diwajibkan membaca Al-Fatihah sadar atau tidak sadar, setiap kali kita membacanya, maka pada 2 ayat terakhir kita memohon kepada Alloh :</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Tunjukilah kami jalan yang lurus,(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan  (pula jalan) mereka yang sesat”.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Seperti apa orang yang diberi petunjuk, orang yang dimurkai Alloh dan orang yang tersesat dapat kita lihat pada surat selanjutnya. Surat Al Baqarah langsung membuka dengan membagi manusia menjadi 3 golongan, masing-masing golongan dilengkapi dengan ciri-cirinya serta akibat yang akan ditanggung oleh golongan manusia tersebut³, yaitu :</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><strong><span style="text-decoration:underline;">Orang beriman</span></strong><strong> : </strong><em>“Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi <strong>mereka yang</strong> <strong>bertaqwa,</strong> (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan salat, dan menafkahkan rizki yang kami anugerahkan kepada mereka, dan mereka yang beriman kepada kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung” (QS. Al-Baqarah [2] : 2-5).</em></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Orang beriman misalnya, ciri-cirinya adalah percaya kepada yang gaib,mendirikan salat, menafkahkan sebagian rejekinya untuk bersedekah/zakat, percaya kepada kitab suci dan hari akhir. Mereka dinyatakan sebagai orang yang selalu mendapat petunjuk dan beruntung.</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><strong><span style="text-decoration:underline;">Orang kafir</span></strong><strong> : </strong><em>“Sesungguhnya <strong>orang-orang kafir,</strong> sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman. Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat”. (QS. Al Baqarah [2] : 6-7).</em></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Orang kafir cirinya cirinya adalah tidak bisa lagi melihat kebenaran. Diberi peringatan atau tidak sama saja karena Allah telah mengunci mata, pendengaran dan hati mereka. Dan bagi mereka siksa yang berat</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><strong><span style="text-decoration:underline;">Orang munafik</span></strong><strong> : </strong><em>“Diantara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Alloh dan Hari kemudian,” pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Alloh dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar”.  (QS. Al-Baqarah[2]:8-9)</em></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Orang munafik dikatakan sebagai orang yang mengaku dia beriman, tapi sebetulnya tidak. Akibatnya orang munafik ini lebih sulit dikenali. Jika untuk orang beriman hanya perlu menggunakan 4 ayat dan orang kafir hanya 2 ayat, maka untuk orang munafik Al-Quran memerlukan 13 ayat untuk menjelaskannya. Beberapa cirinya antara lain, mereka biasa-nya tidak sadar atas keburukan sifatnya sendiri, bahkan merasa dirinya yang lebih benar sehingga dapat menyesatkan orang lain. Mereka merasa lebih pintar dari orang beriman. Mereka suka mengolok-olok orang beriman. Akibat perbuatannya itu, Alloh akan mengganjar mereka dengan siksa yang pedih.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari 20 ayat pertama dalam surat Al-Baqarah, kita sudah mendapat seseorang dan juga diri kita sendiri termasuk pada golongan mana.</p>
<p style="text-align:justify;">Selanjutnya ciri dan penjelasan tambahan untuk masing-masing golongan dapat ditemui pada bagian lain di Al-Qur’an. Ciri-ciri yang dijabarkan tersebut akan semakin menambah kejelasan bagi kita untuk menilai setinggi apa keimanan kita saat ini dan sejauh mana kebenaran dari pelaksanaan peribadatan yang telah kita lakukan.</p>
<p style="text-align:justify;">Contoh, jika seseorang mengaku beriman tetapi jarang melakukan sholat 5 waktu, termasuk golongan manakah dia? Salah satu jawabannya :</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Alloh; dan Alloh akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan sholat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali”.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>(QS. An Nisaa’[4] : 142)</em></p>
<p style="text-align:justify;">Jika kita malas shalat, shalat karena ingin dilihat orang lain , atau lebih banyak memikirkan hal-hal selain Allah ketika shalat maka sadarilah, bahwa diri kita menunjukkan ciri-ciri orang munafik.</p>
<p style="text-align:justify;">Waspadalah&#8230;&#8230;waspadalah&#8230;.waspadalah.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>MENGUKUR KADAR KEIMANAN</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sering kita merasa sudah menjadi orang yang beriman karena sudah masuk islam, mengucapkan dua kalimah syahadat atau mempercayai apa-apa yang dinyatakan dalam rukun iman. Padahal keimanan harus dibuktikan dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.</p>
<p style="text-align:justify;">Di dalam ayat-ayat Al-Qur’an banyak disebutkan perintah dan larangan yang harus di taati agar kita menjadi orang yang beriman, misal:</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Harus berpuasa (<em>Al Baqarah [2]:183</em>)</li>
<li>Harus banyak berzikir (<em>Al Ahzab [33]:41</em>)</li>
<li>Harus menjadi saksi yang adil (<em>Al Maa’idah [5]:8</em>)</li>
<li>Dilarang merendahkan orang ( <em>Al Hujuraat [49]:11</em>)</li>
<li>Dilarang menyakiti orang yang diberi sedekah (<em>Al Baqarah [2]:264</em>)</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Ayat-ayat tersebut, umumnya diawali dengan kata panggilan.”<strong><em>hai orang-orang yang beriman&#8230;</em></strong>”. Jika perintah dan larangan tersebut diabaikan, maka bisa dikatakan kita tidak termasuk orang yang beriman,karena kita bukan orang yang terpanggil oleh ayat-ayat itu. Seberapa tinggi tingkat keimanan kita, dapat diukur dengan seberapa lapangnya hati kita mengikutinya. Orang yang tinggi imannya akan melaksanakan perintah dan larangan tersebut dengan senang hati. Mereka yakin, perintah dan larangannya tersebut pasti sesuatu yang baik bagi dirinya sendiri. Selanjutnya, perintah dan larangan tersebut akan menjadi sikap hidupnya sehari-hari. Orang yang lebih rendah imannya akan melaksanakan ayat-ayat tersebut karena takut dosa dan neraka. Dia akan melaksanakan ayat tersebut meskipun terasa tersiksa masa hidupnya. Sedang orang yang lemah imannya akan menganalisa dan melakukan banyak pertimbangan untung ruginya, sebelum melaksanakannya. Dia memilih ayat-ayat yang menguntungkan, seolah-olah dia lebih pandai dari pada Alloh dalam mengatur alam semesta.</p>
<p style="text-align:justify;">Selain itu ada juga ayat-ayat bukan berupa perintah atau larangan, tetapi banyak juga ayat-ayat yang menggambarkan suasana kejiwaan dan sikap orang yang beriman. Ayat-ayat tersebut juga penting kedudukannya dalam Al Qur’an, karena dengan bercermin kepada ayat tersebut kita juga dapat mengetahui sampai dimana kadar keimanan kita. Apakah diri kita memiliki ciri seperti orang yang dijelaskan dalam ayat-ayat tersebut, misal :</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan ‘Tuhan kami ialah Alloh’, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita”. (QS. Al Ahqaaf [46] : 13)</em></p>
<p style="text-align:justify;">Salah satu ciri orang beriman <span style="text-decoration:underline;">tidak pernah merasa khawatir dan tidak pula berduka cita, Hidupnya selalu bahagia</span>. Kebahagiaan itu sudah dirasakan sejak hidup didunia hingga nanti di akhirat. Mereka sangat percaya kepada firman Allah yang tertulis di Al-Qur’an. Mereka percaya, bahwa Alloh maha pengasih dan maha penyayang, tidak mungkin Alloh akan merugikan hamba-Nya. Mereka tidak pernah khawatir akan masa depan, karena tahu Alloh akan menjamin rejekinya. sejak lahir hingga sampai mati nanti. Ketika masih menjadi bayi yang tidak mampu mengurus diri sendiri, Alloh telah mengirimkan kepada kita orang-orang yang menyayangi kita. Memberi makan, memandikan, mengasuh, hingga kita mandiri. Lalu Alloh memberikan kepandaian, kekuatan dan rezeki terus menerus hingga kita menjadi dewasa seperti sekarang ini. Setelah kita hidup dan menikmati rezeki dari Alloh kenapa kita masih saja tidak percaya bahwa Alloh Maha Pemberi Rezeki?.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika terjadi musibah, orang beriman tidak berduka yang berkepanjangan.  Mereka tenang menghadapinya. Mereka percaya, bahwa ini adalah ketetapan yang terbaik dari Alloh SWT. Karena Alloh Maha Tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Karena itu mereka menunggu dengan penuh harapan, kebaikan apa yang Allah berikan setelah musibah ini berlalu.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan melihat ayat itu, maka jika kita kita slalu khawatir apa yang terjadi atau terlalu sedih dan menyesali terhadap sesuatu yang telah terjadi, hal itu menandakan ada sesuatu yang salah dalam keimanan kita. Kita belum sepenuhnya percaya, bahwa Alloh mampu mengatur alam semesta dengan sempurna.</p>
<p style="text-align:justify;">Sekarang marilah kita melihat lagi salah satu ciri dari orang yang beriman yang disebutkan dalam Al-Qur’an :</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Sesungguhnya orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Alloh gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karena-nya), dan hanya kepada tuhanlah mereka bertawakkal”. (QS .Al Anfaal[8]:2).</em></p>
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan ayat tersebut, salah satu ciri orang yang beriman adalah jika disebut nama Allah maka hatinya akan bergetar. Apa yang anda rasakan ketika melakukan latihan l tadi? Apakah hati anda bergetar? Mudah-mudahan Anda merasakannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari pengalaman saya mengajak orang melakukan latihan l, sangat sedikit sekali yang merasakan dadanya bergetar. Beberapa merasaka “<em>seeerrr” </em>. Ingin menangis atau merasa ketenangan. Sebagian besar tidak merasa apa-apa. Apakah mereka yang tidak merasa apa-apa artinya tidak beriman? Bagaimana dengan anda?.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya yakin, bahwa anda yang membaca tulisan ini termasuk orang yang beriman. Tapi kenapa tanda-tanda orang beriman tidak muncul ketika kita menyebut nama Alloh? Apakah hati kita telah sekeras batu? Atau kita termasuk orang yang munafik?</p>
<p style="text-align:justify;">Mari kita lihat dimana letak permasalahannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dzikirlah sebanyak-banyaknya</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika anda tadi berdzikir, manakah yang lebih diperhatikan : hitungannya atau Alloh-nya?</p>
<p style="text-align:justify;">Seringkali kita tidak sadar, ketika berdzikir, kita terlalu memperhatikan jumlah hitungan yang harus dicapai. Seolah-olah jumlah hitungan itu sangat penting sehingga kalau meleset, gugurlah pahala dzikir kita. Kita menjadi lupa, bahwa tujuan berdzikir adalah untuk mengingat Alloh bukan menghitung bacaaan.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya tidak menampik banyak hadist yang mengajarkan kita untuk berdzikir dalam jumlah tertentu. Ada yang hanya 3 kali, 33 kali, 100 kali, atau bilangan lainnya, tetapi Al Qur’an mengajarkan lebih dari itu:</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang <strong>sebanyak-banyaknya”</strong>. (QS.Al Ahzab[33] : 41).</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah <strong>diwaktu berdiri, diwaktu duduk dan diwaktu </strong>berbaring”<strong>.</strong> (QS.An Nissa[4] : 103)</em></p>
<p style="text-align:justify;">Sang pencipta langit dan bumi bernama Alloh<em> </em></p>
<p style="text-align:justify;">Ketika anda menyebut nama Alloh kemanakah pikiran anda menuju?</p>
<p style="text-align:justify;">Nama adalah sebuah simbol dari pemiliknya. Ketika kita menyebut kata “SBY” maka pikiran kita langsung tertuju kepada sosok gagah berwibawa, yang jika berbicara tutur katanya tertata dengan baik, yang menjadi Presiden RI. Ketika kita menyebut kata “ibu” maka pikiran kita langsung mengarah kepada wanita yang melahirkan kita, melindungi dan menyayangi kita. Wanita yang mengurus dan mendidik kita ketika kita masih kecil. Tetapi ketika kita menyebut Allah, kita menjadi bingung dalam membayangkan “sosok” Tuhan.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika kita menyebut nama Alloh, tidak perlu kita membayangkan sosok Alloh, karena kita tidak akan mampu melakukannya. Alloh tidak serupa dengan apapun juga, maka apapun yang kita bayangkan mengenai wujud Alloh pasti salah. Cukup <strong>sadari</strong> saja, bahwa yang kita panggil atau sebut nama-Nya itu adalah Dzat pencipta langit dan bumi. Dialah Tuhan yang menciptakan kita. Tuhan yang memberi kita hidup lalu memberi kita rezeki sepanjang hidup kita. Tuhan yang sangat berkuasa, bahkan setelah kita mati sekalipun. Dialah yang menetapkan siapa yang berhak masuk surga dan siapa yang dikirim ke neraka.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya ingin memberikan gambaran yang lebih jelas untuk memperbandingkan siapa Alloh dan siapa kita ini agar kesadaran kita lebih terbuka.</p>
<p style="text-align:justify;">Andaikan Bumi ini sebesar buah jeruk, maka Manusia tidak lebih besar dari debu-debu halus atau sel kulit. Kita naikan skala perbandingannya. Jika Matahari sebesar jeruk, maka Bumi kira-kira hanya sebesar butiran nasi. Manusia, mungkin tidak lebih besar dari molekul yang membentuk kulit jeruk. Kita naikan lagi skala perbandingannya. Jika Galaksi Bima Sakti memiliki diameter sebesar jeruk, maka Matahari hanyalah sebesar debu. Bumi mungkin sebesar sel-sel kulit jeruk. Manusia hanyalah seperti elektron-elektron. Kita naikan skala perbandingannya lebih jauh lagi. Jika Alam Semesta ini yang kita kenal sekarang ini sebesar ruang keluarga anda, maka Galaksi hanya sebesar debu atau pasir. Matahari hanyalah seperti bakteri atau virus yang berterbangan di udara. Bumi hanyalah sebesar atom oksigen. Manusia ? Masihkah Manusia disebut sebagai ada ? Kita tidak ada apa-apa nya di Alam Semesta ini. Sementara Allah Sang Pencipta lebih besar dari Alam Semesta ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Sekarang setelah kita sadar kekeliruan kita dalam berdzikir dan setelah sadar seberapa besarnya diri kita dan betapa besarnya Allah, marilah kita ulangi lagi apa yang telah kita lakukan di latihan sebelumnya sebagaimana dibawah ini.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;">LATIHAN  2</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Duduk seperti duduk diantara dua sujud (duduk <em>i’tiraj</em>)</p>
<p style="text-align:justify;">Kendorkan badan, tundukanlah hati anda serendah-rendahnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu amati nafas kita. Amati saja tidak perlu diatur.</p>
<p style="text-align:justify;">Amati bahwa nafas kita bergerak sendiri tanpa kita perintah.</p>
<p style="text-align:justify;">Mereka bergerak karena digerakkan Dzat yang memberi kita hidup.</p>
<p style="text-align:justify;">Sadari, bahwa yang kita sebut nama-Nya adalah Nama Dzat yang memberi kita hidup. Nama Dzat yang menciptakan langit dan bumi</p>
<p style="text-align:justify;">Nama Dzat Yang Maha Besar, Dzat Yang Maha Agung.</p>
<p style="text-align:justify;">Sekarang, panggilah nama Dzat yang Maha Besar tanpa menghitung-hitung jumlahnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Panggilah dengan rendah hati dan suara lembut :</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Alloh&#8230; </strong></p>
<p style="text-align:justify;">(diam dan rasakan bagaimana Alloh merespon panggilan Anda)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Alloh&#8230;</strong></p>
<p style="text-align:justify;">(diam dan amati apa yang anda rasakan)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Alloh&#8230;Alloh&#8230;Alloh</strong>&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">(panggilah nama-Nya secara perlahan sampai anda merasa cukup)</p>
<p style="text-align:justify;">Silahkan dimulai</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>S T O P</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Jangan melanjutkan membaca sebelum melakukan latihan di atas<em>.</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sekarang apa yang anda rasakan? Mudah-mudahan anda merasakan getaran atau “sesuatu” di dalam dada sebagai salah satu tanda keimanan kepada Alloh. Mudah-mudahan anda tidak termasuk sebagaimana :<em> </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Orang-orang arab badui itu berkata: ”kami tidak beriman”. Katakanlah ”kamu belum beriman, tapi katakanlah ’kami telah tunduk’, karena iman itu belum masuk kedalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.</em> (<em>QS. Al Hujuraat [49]:14)</em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>BERBUAT DENGAN PENUH KESADARAN. </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Bagi yang bisa merasakan perbedaannya, mari kita evaluasi kenapa bisa terjadi perbedaan antara Latihan 1 dan Latihan 2</p>
<p style="text-align:justify;">Pada Latihan 2 kita melakukannya dengan penuh kesadaran. Kita sadar, siapa yang nama-Nya kita sebut. Karena kita sadar, kita jadi mengerti bagaimana kita harus bersikap dan mengamati apa yang sedang terjadi terhadap apa yang kita lakukan. Kesadaran seperti itu biasa disebut sebagai<strong> NIAT.</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Niat menurut syara’ adalah keinginan untuk melakukan sesuatu yang di ikuti dengan melakukan perbuatan. Dari definisi tersebut, dapat dikatakan niat ada sepanjang perbuat-an tersebut dilakukan. Niat dalam shalat bukan sekedar mengucapkan “usholii”. Bahkan mengucapkan “ushalii” bukan merupakan bagian dari shalat. Shalat menurut syar’i adalah ibadah yang terdiri dari rangkaian bacaan dan gerakan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Sementara itu, mengucapkan “ushalii” terletak sebelum takbir, artinya diluar kegiatan shalat. “Usholii” hanya sekedar bacaan yang membantu mengingatkan kita agar kita melakukan shalat dengan penuh niat, dalam arti sungguh-sungguh menghadapkan diri ke Allah sesuai dengan tatacara yang telah ditentukan.</p>
<p style="text-align:justify;">Niat dalam shalat harus ada sepanjang shalat tersebut dilakukan, sejak takbir sampai dgn salam. Jadi takbirlah dengan niat, bacalah Al-Fatihah dengan niat, rukuklah dengan niat, dan seterusnya sampai dengan salam. Artinya ketika Takbir kita sadar, bahwa ketika itu kita sedang mengagungkan kebesaran Allah. Ketika membaca Al Fatihah kita sadar, bahwa ketika itu kita sedang memulai berkomunikasi dengan Allah. Ketika kita rukuk, kita sadar, bahwa ketika itu kita sedang menundukkan diri di hadapan Allah SWT. Demikian seterusnya kita selalu melakukan gerakan dan bacaan shalat dengan penuh kesadaran hingga kita mengucapkan salam untuk menebarkan keselamatan ke sekeliling kita.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>BAB 2 :  TUNDUK DALAM KEPASRAHAN</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Masih ingatkah pelajaran rukun shalat yang pernah kita terima ketika kita masih duduk di bangku SD, SMP atau SMA ?. Secara ringkas, rukun shalat adalah sebagai berikut :</p>
<table style="text-align:justify;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="216" valign="top">
<ul>
<li>Niat</li>
<li>Takbir</li>
<li>Berdiri
<ul>
<li>Membaca Al-Fatihah</li>
<li>Rukuk</li>
<li>I’tidal</li>
<li>Sujud
<ul>
<li>Duduk diantara dua sujud</li>
<li>Tahiyyad akhir</li>
<li>Salam</li>
</ul>
</li>
</ul>
</li>
</ul>
</td>
<td width="216" valign="top"></td>
<td width="216" valign="top"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-align:justify;">Beberapa mahzab ada yang menambahkan rukun shalat dengan tu’maninah, tertib dan berurutan, serta sedikit variasi di dalam detail masing-masing rukunnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Evaluasi Pelaksanaan Rukun Sholat.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya tidak akan membahas secara detail masalah rukun shalat disini. Rasanya sudah sangat sering dibahas dan sangat banyak buku-buku yang menulis tentangnya. Saya hanya ingin mengajak Anda untuk melihat kembali apakah rukun shalat tersebut sudah dilakukan dengan benar ?</p>
<p style="text-align:justify;">Pada bab sebelumnya kita sudah membahas masalah niat. Sekarang mari kita lihat rukun yang lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Coba kita perhatikan rukun shalat di atas. Bacaan apa saja yang dimasukkan ke dalam rukun shalat ? Jawabannya adalah Al Fatihah dan tahiyyad akhir (shalawat). Dapat juga ditambahkan dengan takbir dan salam yang juga harus diucapkan. Bacaan lainnya adalah sunnah. Jika dibaca menambah pahala, jika ditinggalkan tidak membatalkan shalatnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Jika demikian apakah yang wajib dilakukan ketika rukuk atau sujud ? Pertanyaan ini sederhana saja sifatnya, tapi selama ini banyak yang tidak memperhatikannya sehingga bingung menjawabnya. Jawabannya adalah gerakan rukuk dan sujud itu sendiri. Jika kita tidak membungkukkan dan menyujudkan badan kita maka shalat kita tidak sah, kecuali jika kita sedang uzur tentunya. Sedangkan bacaan di dalamnya adalah sunnah, tidak dibaca tidak apa-apa. Shalat kita tetap sah.</p>
<p style="text-align:justify;">Coba kita ingat kembali pelaksanaan shalat yang selama ini telah kita lakukan. Manakah yang lebih kita perhatikan ketika kita melakukan rukuk dan sujud ? Bacaan atau gerakan ? Banyak sekali orang mengira bahwa dia memperhatikan kedua-duanya, tetapi coba kita ingat-ingat kembali : Pernahkah kita memperhatikan apakah gerakan rukuk dan sujud kita telah sempurna ? Apakah punggung kita telah lurus sehingga jika diletakkan gelas berisi air tidak tumpah ? Apakah kita telah mengamalkan gerakan rukuk dan sujud sebagaimana dijelaskan dalam hadist di bawah ini ?</p>
<p style="text-align:justify;">Abu Humaid As-Sa’idi r.a berkata, “<em>Aku mengingat shalat Rosululloh SAW lebih baik daripada siapapun diantara kalian. Aku melihat Nabi SAW mengangkat kedua tangannya sejajar dengan bahunya dan mengucapkan takbir, dan ketika rukuk Nabi SAW meletakkan kedua (telapak) tangannya di atas dua lutunya dan punggungnya membungkuk lurus, kemudian setelah bangkit dari rukuk Nabi SAW berdiri tegak hingga semua tulang punggungnya berada dalam posisi normal. Ketika sujud, Nabi SAW meletakkan kedua (telapak) tangannya di atas tanah dan menjauhkan lengan bagian bawahnya dari tanah dan tubuhnya, dan jari-jemari (kakinya) menghadap ke arah kiblat. Ketika duduk pada rakaat kedua, Nabi SAW duduk di atas kaki kirinya dan menyangga kakinya sebelah kanan, dan pada rakaat terakhir Nabi SAW menekan kakinya sebelah kiri kedepan dan menopang kakinya sebelah kanan dan duduk di atas pinggulnya”.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> ( 1:179 – Shahih Al Bukhari )</em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>BACAAN BUKAN PANGLIMA</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sadar atau tidak sadar, bacaan bagi kebanyakan kita telah menjadi panglima dalam shalat. Cepat-lambat atau panjang-pendeknya bacaan telah menentukan lamanya shalat. Perpindahan antara satu gerakan ke gerakan lain dalam shalat ditentukan oleh selesainya bacaan, seolah-olah bacaan menjadi aba-aba dalam shalat. Begitu kita selesai membaca bacaan sujud 3x, maka segera kita bergerak untuk duduk. Begitu selesai menyampaikan 8 permohonan disaat duduk diantara 2 sujud kita langsung bergerak untuk sujud kembali.</p>
<p style="text-align:justify;">Kebiasaan ini mungkin dilakukan karena mencontoh dari apa yang kita lihat ketika shalat berjamaah. Dalam shalat berjamaah, setelah selesai membaca Al Fatihah dan surat pendek, imam shalat biasanya akan mengucapkan takbir sebagai tanda kita harus rukuk. Kita lalu mengambil kesimpulan, bahwa selesainya bacaan shalat menjadi batas lamanya gerakan shalat yang lainnya. Padahal tolok ukurnya berbeda. Ketika kita berdiri membaca Al Fatihah, bacaannya adalah wajib. Sedang ketika rukuk, itidal, sujud dan duduk, bacaannya sunnah, yang wajib adalah gerakannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin Anda bertanya-tanya, jika bukan bacaan lalu apa yang menentukan lamanya gerakan rukuk, i’tidal, sujud dan duduk ? Marilah kita lihat apa yang diajarkan Nabi SAW ketika memberikan pelatihan shalat secara singkat kepada seseorang sebagaimana hadist di bawah ini.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Diriwayatkan dari Abu Hurairah : Rasulullah SAW masuk ke dalam masjid dan seseorang mengikutinya. Orang itu mengerjakan shalat kemudian menemui Nabi SAW dan mengucapkan salam. Nabi SAW membalas salamnya dan berkata, “<strong>Kembalilah dan sholatlah, karena kau belum sholat</strong>”. Hal itu terjadi tiga kali. Orang itu berkata, “<strong>Demi Dia yang mengutus engkau dengan kebenaran, aku tidak dapat mengerjakan shalat dengan cara yang lebih baik selain cara ini. Ajarilah aku bagaimana cara shalat</strong>”. Nabi SAW bersabda, “<strong>Ketika kau berdiri untuk shalat, ucapkan takbir lalu bacalah (surah) dari Al Qur’an kemudian rukuklah hingga kau merasa tenang (thuma’ninah). Kemudian angkatlah kepalamu dan berdiri lurus, lalu sujudlah hingga kau merasa tenang selama sujudmu, kemudian duduklah dengan tenang, dan kerjakanlah hal yang sama dalam setiap shalatmu</strong>” ( 1:724 – Shahih Al Bukhari ).</em></p>
<p style="text-align:justify;">Jika kita membaca hadits di atas, kita bisa duga, bahwa orang itu sudah mengetahui bacaan dan gerakan-gerakan shalat. Tapi mungkin pelaksanaan dilakukan secara terburu-buru. Karena itu Nabi tidak lagi mengajarkan bacaan dan dasar-dasar shalat lainnya. Nabi mengajarkan apa yang perlu diperbaiki oleh orang itu. Beliau mengajarkan bahwa lamanya gerakan shalat khususnya ketika ruku, sujud dan duduk, bukanlah ditentukan oleh selesainya bacaan, tetapi sampai kita merasa tenang.</p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin orang itu sama seperti kita. Kita hafal seluruh bacaan shalat, tahu gerakan-gerakan shalat dan mungkin juga seluk beluk shalat lainnya. Kita merasa shalat kita sudah sempurna seperti yang dicontohkan Nabi. Kita sering tidak sadar, ketika shalat kita sering membaca bacaan dengan cepat agar shalat kita cepat selesai. Ternyata shalat semacam itu dipandang Nabi hanya seperti angin lalu saja. Sia-sia. Diulang berkali-kali pun tidak ada gunanya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>RUKUN SHOLAT YANG DILUPAKAN</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kesempurnaan gerakan tidak mungkin dicapai jika kita terburu-buru dalam melaksanakan shalat. Gerakan-gerakan shalat harus dilakukan dengan perlahan-lahan dan penuh perasaan. Dalam rukun shalat, hal itu disebut “<strong><em>THUMA’NINAH</em></strong>”. Thuma’ninah diartikan sebagai berhenti sebentar dalam setiap gerakan hingga seluruh tulang dan persendian kembali pada posisi yang tepat dan tubuh terasa tenang.</p>
<p style="text-align:justify;">Thuma’ninah sebetulnya termasuk dalam rukun shalat pada sebagian besar mahzab. Ada yang dinyatakan sebagai salah satu rukun, ada pula yang digabung dengan rukun lain. Mahzb Syafi’i yang dianut oleh sebagian besar orang Indonesia menggabungkan dalam rukun yang lain, seperti rukuk dengan thuma’ninah, sujud dengan thuma’ninah, duduk dengan thuma’ninah. Tetapi karena thuma’ninah bukan merupakan gerakan atau bacaan, maka dia sering dilupakan orang. Padahal sebagai rukun, sebetulnya thuma’ninah tidak boleh ditinggalkan. Shalat tanpa thuma’ninah kira-kira sama dengan shalat tanpa bertakbir atau tanpa membaca Al Fatihah atau tanpa salam. Artinya shalat tersebut tidak sah !</p>
<table style="text-align:justify;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="252" valign="top"><strong>MAHZAB</strong></td>
<td width="84" valign="top"><strong>Syafi’i</strong></td>
<td width="96" valign="top"><strong>Malik</strong></td>
<td width="84" valign="top"><strong>Hanafi</strong></td>
<td width="84" valign="top"><strong>Hanbali</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="252" valign="top">
<ol>
<li><strong>1. </strong>Niat
<ol>
<li><strong>2. </strong>Takbiratul Ihram</li>
<li><strong>3. </strong>Berdiri</li>
<li><strong>4. </strong>Membaca Al Fatihah</li>
<li><strong>5. </strong>Rukuk</li>
<li><strong>6. </strong>I’tidal</li>
<li><strong>7. </strong>Sujud</li>
<li><strong>8. </strong>Duduk diantara dua sujud</li>
<li><strong>9. </strong>Duduk tasyahhud akhir</li>
<li><strong>10. </strong>Membaca tasyahhud akhir</li>
<li><strong>11. </strong>Membaca shalawat</li>
<li><strong>12. </strong>Salam</li>
<li><strong>13. </strong>Tertib</li>
<li><strong>14. </strong>Thuma’ninah</li>
</ol>
</li>
</ol>
</td>
<td width="84" valign="top">Rukun
<p>&nbsp;</p>
<p>Rukun</p>
<p>Rukun</p>
<p>Rukun</p>
<p>Rukun</p>
<p>Rukun</p>
<p>Rukun</p>
<p>Rukun</p>
<p>Rukun</p>
<p>Rukun</p>
<p>Rukun</p>
<p>Rukun</p>
<p>Rukun</p>
<p>Rukun <sup>*)</sup></td>
<td width="96" valign="top">Rukun
<p>&nbsp;</p>
<p>Rukun</p>
<p>Rukun</p>
<p>Rukun</p>
<p>Rukun</p>
<p>Rukun</p>
<p>Rukun</p>
<p>Rukun</p>
<p>Rukun</p>
<p>Rukun</p>
<p>Rukun</p>
<p>Rukun</p>
<p>Rukun</p>
<p>Rukun</td>
<td width="84" valign="top">-
<p>&nbsp;</p>
<p>Rukun</p>
<p>Rukun</p>
<p>Rukun</p>
<p>Rukun</p>
<p>-</p>
<p>Rukun</p>
<p>-</p>
<p>Rukun</p>
<p>-</p>
<p>-</p>
<p>-</p>
<p>-</p>
<p>-</td>
<td width="84" valign="top">-
<p>&nbsp;</p>
<p>Rukun</p>
<p>Rukun</p>
<p>Rukun</p>
<p>Rukun</p>
<p>Rukun</p>
<p>Rukun</p>
<p>Rukun</p>
<p>Rukun</p>
<p>Rukun</p>
<p>Rukun</p>
<p>Rukun</p>
<p>Rukun</p>
<p>Rukun</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-align:justify;"><sup>*) </sup>Digabungkan dengan rukun lainnya</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;">Foot note</span></strong> : Tabel di atas dari <a href="http://www.eramuslim.com/ustadz/shl/7611221508--mana-datangnya-rukun-sholat-htm">http://www.eramuslim.com/ustadz/shl/7611221508&#8211;mana-datangnya-rukun-sholat-htm</a> yang merupakan kutipan dari kitab Al Fiqhul Islami wa Adillatuhu. Karya Dr. Wahbah Az`Zuhaily. Pada bagian thuma’ninah diubah oleh Penulis berdasarkan buku Fikih Shalat. Kajian berbagai Mazhab Dr. Wahbah al Zuhaily. Terjemahan Prof. Drs. KH Masdar Helmy Penerbit Pustaka Media Utama Cetakan pertama tahun 2004.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>GERAKAN YANG MENGHANTARKAN JIWA</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Gerakan tubuh sangat penting untuk menghantarkan hati dan jiwa mencapai ketundukan dan kerendahan dihadapan Allah. Untuk lebih memahaminya mari kita lakukan latihan berikut ini.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;">LATIHAN 3</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Duduklah seperti duduk diantara dua sujud</p>
<p style="text-align:justify;">Kepalkan telapak tangan di depan dada dengan kuat</p>
<p style="text-align:justify;">Busungkan dada dan kepala agak menengadah</p>
<p style="text-align:justify;">Katakan dalam hati</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>“Aku pasrah, aku pasrah, aku pasrah &#8230;&#8230;&#8230;..”</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Amati apa yang Anda rasakan.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah selesai kendorkan badan. Tundukkan kepala</p>
<p style="text-align:justify;">Letakkan tangan menelungkup di atas paha.</p>
<p style="text-align:justify;">Katakan sekali lagi</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>“Aku pasrah aku pasrah aku pasrah &#8230;&#8230;&#8230;..”</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Amati apa yang Anda rasakan.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>STOP !</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Jangan melanjutkan membaca sebelum melakukan latihan di atas.</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Coba bandingkan, manakah yang lebih terasa pasrah ?</p>
<p style="text-align:justify;">Posisi yang pertama atau yang kedua ?</p>
<p style="text-align:justify;">Umumnya orang merasakan posisi yang kedua yang lebih terasa pasrah. Ketika tubuh rileks dan membungkuk, maka akan lebih mudah bagi orang untuk mencapai posisi kepasrahan diri.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebaliknya, sangat sulit mencapai posisi pasrah atau rendah hati</p>
<p style="text-align:justify;">jika tubuh tegang dan dada membusung.</p>
<p style="text-align:justify;">Sikap tubuh yang biasanya terdapat pada orang sombong dan angkuh.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;">LATIHAN 4</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Duduklah seperti duduk diantara dua sujud dengan posisi seperti latihan 3 bagian kedua. Kendorkan badan.</p>
<p style="text-align:justify;">Tundukkan kepala. Letakkan tangan menelungkup diatas paha.</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu katakan :</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>“Aku pasrah, aku pasrah, aku pasrah &#8230;&#8230;&#8230;..”</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Amati apa yang Anda rasakan.  Teruskan kepasrahan Anda.</p>
<p style="text-align:justify;">Kali ini tanpa kata-kata, tanpa bacaan.</p>
<p style="text-align:justify;">Pasrahkan saja dan rendahkanlah hati Anda, biarkan tubuh Anda lerem, bergerak mengikuti kepasrahan.</p>
<p style="text-align:justify;">Jika tubuh Anda cenderung untuk condong kedepan, ikuti saja, jangan ditahan. Teruskanlah untuk semakin pasrah dan rela</p>
<p style="text-align:justify;">Amati lagi apa yang Anda rasakan.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>STOP !</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Jangan melanjutkan membaca sebelum melakukan latihan di atas</strong><strong>.</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Coba bandingkan apa yang Anda rasakan. Manakah yang terasa lebih pasrah dan lebih enak yang menggunakan kata-kata atau yang tanpa kata-kata? Hampir semua orang yang pernah melakukan latihan 4 mengatakan, bahwa yang lebih terasa enak adalah yang tanpa kata-kata !</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika kita menggunakan kata-kata, otak kiri yang berkaitan dengan logika, hafalan, sekuensial, akan berperan aktif. Ketika kita pasrah tanpa kata-kata, maka otak kiri tidak aktif lagi. Otak kanan yang berkaitan dengan rasa, emosi, acak, yang berperan katif. Akibatnya lebih terasa enak.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika hati kita pasrah atau tunduk dalam keadaan diam (tanpa kata), maka pikiran kita bergerak mengikuti naluri. Tubuhpun ikut pasrah sehingga otot-otot lebih kendor dan terasa rileks. Jika kepasrahan itu diteruskan dan diikuti dengan sepenuh hati, maka orang akan tersujud dengan sendirinya. Sujud yang bukan dari perintah otak, tetapi sujud yang muncul dari hati yang berserah diri.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>RUKUK DAN SUJUD DENGAN PENUH KERENDAHAN</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dari banyak gerakan-gerakan sholat, gerakan rukuk dan sujud adalah yang paling penting. Dalam beberapa ayat di dalam Al Qur’an, rukuk dan sujud kadang digunakan sebagai pengganti kata sholat, misalnya :</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Dan (ingatlah), ketika kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan) : “Janganlah kamu memperserikatkan sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku’ dan sujud”</em> (QS. <em>Al Hajj : 26)</em></p>
<p style="text-align:justify;">Rukuk dan sujud sedemikian penting sehingga Nabi memerintahkan untuk menyempurnakannya.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Hadits riwayat Anas bin Malik ra, : Dari Nabi SAW, Beliau bersabda : <strong>Sempurnakanlah</strong> <strong>rukuk dan sujud</strong>, demikian Allah, sesungguhnya aku dapat melihat engkau di belakangku (kemungkinan bersabda : yang dibelakang punggungku) saat engkau rukukdan sujud. (Shahih Muslim No. 644)</em></p>
<p style="text-align:justify;">Bahkan ketidaksempurnaan dalam melakukan rukuk dan sujud dinilai Nabi seperti orang yang mencuri di dalam shalat, sebagaimana hadits berikut ini.</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Dari Qatadah ra, dia berkata : Rasulullah SAW pernah bersabda, “Paling jelek manusia dalam mencuri adalah orang yang mencuri dalam shalatnya”. Ada seorang sahabat bertanya : “Wahai Rasulullah bagaimanakah dia mencuri shalatnya ?”. Rasulullah SAW menjawab : “Dia tidak menyempurnakan <strong>rukuk</strong> shalat itu dan tidak pula menyempurnakan <strong>sujudnya</strong>”.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Rukuk dan sujud sangat penting untuk membantu kita meraih kekhusyu’an. Gerakan rukuk dan sujud akan membantu jiwa mencapai ketundukkan dan kerendahan. Sikap tubuh yang membungkuk pada rukuk akan membantu jiwa kita untuk tunduk dan hormat kepada Allah. Demikian pula meletakkan kepala pada posisi yang paling rendah, akan membantu kita untuk merendahkan diri dihadapan Alloh. Jika rukuk dan sujud tidak sempurna, maka dapat dipastikan, bahwa jiwa kita belum mencapai ketundukkan dan kerendahan sebagaimana yang diharapkan. Artinya, tidak mungkin meraih kesempurnaan shalat, yaitu turunnya rasa khusyu’, rasa tunduk, rendah dan tenang di hadapan Alloh.</p>
<p style="text-align:justify;">Sayangnya, justru gerakan rukuk dan sujud ini yang paling banyak salah dilakukan. Pada rukuk, kesalahan yang paling sering terjadi adalah punggung melengkung, kepala menekuk terlalu dalam dan tangan diletakkan di bawah atau di atas lutut. Sedangkan yang sering salah dilakukan orang pada saat sujud adalah punggung yang melengkung atau siku jatuh hingga menempel ke lantai.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk melatih gerakan-gerakan rukuk dan sujud yang benar, dapat dilakukan sebagaimana Latihan 5 di bawah ini.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>SEMPURNAKAN  SUJUD DAN RUKUK</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Gerakan rukuk dan sujud tidak akan sempurna jika hati tidak melakukan hal yang sama. Hati yang tunduk akan mengantarkan seluruh bagian tubuh kita tunduk pula. Hati sedemikian berpengaruhnya bagi tubuh kita, sehingga Nabi mengatakan bahwa jika hati baik maka seluruh tubuh kita akan ikut baik.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Ingatlah bahwa dalam jasad ada sekerat daging, jika ia baik, maka baiklah jasad seluruhnya ; jika ia rusak, maka rusaklah jasad seluruhnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Imam Bukhari dan Muslim).</em></p>
<p style="text-align:justify;">Setelah kita dapat melakukan gerakan rukuk dan sujud dengan baik, kini kita sempurnakan dengan hati yang ikut pula tunduk dan merendah dihadapan Allah sebagaimana latihan di bawah ini.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;">LATIHAN 5</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pada latihan ini, kita melatih gerakan rukuk dan sujud agar lebih sempurna dan lebih terasa enak ditubuh sehingga lebih mudah meraih rasa tenang dalam gerakan itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Berdirilah dengan tegak, lalu angkatlah kepala menengadah sehingga Anda melihat lurus ke atas agak ke belakang sedikit.</p>
<p style="text-align:justify;">Pertahankan posisi tersebut beberapa saat. Rasakan tulang punggung Anda agak tertarik sedikit. Kira-kira seperti itulah rasanya tulang punggung Anda ketika rukuk dengan tepat.</p>
<p style="text-align:justify;">Coba Anda bergerak rukuk dengan tetap mempertahankan posisi tulang punggung Anda. Jadikan tulang punggung Anda sebagai poros gerakan.</p>
<p style="text-align:justify;">Ulangi beberapa kali sehingga Anda dapat meraih posisi rukuk yang benar dengan cepat.</p>
<p style="text-align:justify;">Ambillah posisi seperti orang sedang merangkak. Tempatkan tangan kira-kira 2 jengkal dari lutut. Diam dengan santai beberapa saat.</p>
<p style="text-align:justify;">Biarkan hingga tulang punggung jatuh tertarik oleh gravitasi bumi. Biarkan beberapa saat, lalu letakkan kepala Anda ke lantai untuk bersujud. Perhatikan kedua tangan Anda.</p>
<p style="text-align:justify;">Jangan sampai sikunya menyentuh tanah dan aturlah pembagian beban agar kepala tidak menanggung berat yang terlalu besar.</p>
<p style="text-align:justify;">Turunkan bahu Anda, kendorkan ruas-ruas tulang punggung Anda</p>
<p style="text-align:justify;">lalu diamlah hingga tubuh terasa rileks.</p>
<p style="text-align:justify;">Ulangi beberapa kali sehingga Anda dapat meraih posisi sujud yang benar dengan cepat</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>STOP !</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Jangan melanjutkan membaca sebelum melakukan latihan di atas.</strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam latihan tadi, saya mengajak Anda untuk betul-betul merendahkan diri dihadapan Alloh.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam ketundukan tersebut peran hati dan jiwa sangat penting. Tubuh sekedar mengikuti gerakan jiwa kita. Meskipun demikian, sikap tubuh yang sempurna akan lebih membantu.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;">LATIHAN 6</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Duduklah seperti duduk diantara dua sujud. Dapat juga dilakukan sambil berdiri. Memejamkan mata akan lebih baik agar suasana di sekeliling tidak mengganggu.</p>
<p style="text-align:justify;">Niatkan hati Anda untuk tunduk dan pasrah.</p>
<p style="text-align:justify;">Rasakan, begitu selesai Anda berniat, akan terasa seperti ada tuntunan atau dorongan untuk tunduk.</p>
<p style="text-align:justify;">Jika Anda ikuti dorongan itu, maka diri Anda semakin terbawa untuk lebih tunduk lagi. Cobalah beberapa kali sampai Anda mudah mengikuti dorongan ketundukan itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian lakukanlah ketundukkan secara total hingga Anda tersujud dengan sendirinya. Setelah tersujud, jangan berhenti.</p>
<p style="text-align:justify;">Biarkanlah jiwa Anda mengikuti ketundukkan itu semakin dalam, sampai terasa masuk menembus ke dalam bumi. Teruslah ikut dorongan ketundukan itu</p>
<p style="text-align:justify;">sampai jiwa Anda tak sanggup lagi mengikutinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah itu pujilah Alloh sebagaimana bacaan ketika kita sujud. Sampaikan pujian, dari hati yang paling dalam.</p>
<p style="text-align:justify;">Hati yang sedang dalam ketundukkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Setiap kali memuji, rendahkan lagi hati Anda lebih dalam lagi</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu diamlah dengan rela kepada Alloh sampai Anda puas.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>STOP !</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Jangan melanjutkan membaca sebelum melakukan latihan di atas.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>BAB 3 : BERDIALOG DENGAN ALLOH</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sering kita mendengar pendapat, bahwa pada saat shalat sesungguhnya kita sedang berjumpa dengan Allah. Rasulullah SAW pun bersabda : <em>Ash sholaatu mi’rajul mu’miniin</em>. Bahwa, shalat itu adalah mi’rajnya orang-orang yang beriman. Shalat diumpamakan sebagaimana halnya Nabi mi’raj. Seorang hamba diperjalankan untuk datang, mendekat menemui Tuhannya. Dalam mi’raj itu, Nabi berdialog dengan Alloh dan menerima perintah sholat. Konon, salah satu bagian dari dialog itu diabadikan delam bacaan tahiyyad awal.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah membaca Lauhil Mahfuz ditempat alam tertinggi berdiri Arasy Allah, maka berkatalah Muhammad : <strong><em>“Attahiyyatu lillaah wa sholawaatu thayiibaat”</em></strong> (Seluruh penghormatan hanya untuk Allah, begitu juga seluruh keselamatan dan kebaikan). Allah menjawab <em>: <strong>“Assalaamu’alaika ayyuhan nabiyyu warahmatullahi wabarakaatuh”</strong></em> (Semoga kesejahteraan dilimpahkan kepadamu, wahai Nabi, serta rahmat Allah dan berkat Nya). Nabi menjawab : <strong><em>“Assalaamu’alaina wa alaa ibaadillahis shalihin”</em></strong> (Limpahkanlah kesejahteraan bagi kami, juga kepada hamba Allah yang saleh). Dengan takjud malaikat ramai-ramai menunjuk dan berkata : <strong><em>“Asyhadu alaa ilaaha ilallaah wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullah”.</em></strong><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;">Suatu dialog yang penuh kesantunan dan kasih sayang antara seorang hamba dengan penciptanya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>ALLOH  MENJAWAB  SETIAP  PUJIAN  DAN  DOA</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sholat secara bahasa berarti do’a. Do’a pada hakikatnya merupakan bentuk dialog antara manusia dengan Allah SWT. Ketika seseorang shalat, hakekatnya ia sedang bertemu dan berdialog dengan Alloh SWT. Oleh karena itu secara hakiki fungsi shalat dan mi’raj sama, yaitu bertemu dan berdialog dengan Alloh SWT.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika bertakbir dan memuji Allah, sesungguhnya Allah menjawab pujian itu. Ketika kita membawa surat Al Fatihah, sesunguhnya Allah meresponnya, sebagaimana dinyatakan dalam satu hadits qudsi dari hadits riwayat Muslim dalam kitab Sholat no. (38) (395) dari Abu Hurairah ra, bahwa :</p>
<p style="text-align:justify;">Rosululloh SAW bersabda : Alloh SWT berfirman <strong><em>“ Aku membagi sholat (yakni surat Al Fatihah) menjadi dua bagian, separuh untuk-Ku dan separuh untuk hamba-Ku</em></strong>”. Apabila ia membaca : <strong><em>“Segala puji bagi Allah”</em></strong>. Maka Allah menjawab : <strong><em>“Hamba-Ku telah memuju-Ku”</em></strong>. Apabila ia membaca : <strong><em>“Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”</em></strong>. Maka Allah menjawab : <strong><em>“Hamba-Ku telah menyanjung-Ku</em></strong>”. Apabila ia membaca : “Penguasa Hari pembalasan”. Maka Allah menjawab : “Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku”. Apabila ia membaca : <strong><em>“Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan”</em></strong>. Maka Allah menjawab : <strong><em>“Ini separoh untuk-Ku dan separoh untuk hamba-Ku”</em></strong>. Apabila ia membaca <strong><em>: “Tunjukilah kami kepada jalan yang lurus”</em></strong>. Maka Allah menjawab : <strong><em>“Ini untuk hamba-Ku, akan aku kabulkan apa yang ia minta.”</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Demikian pula ketika kita berdo’a saat duduk diantara dua sujud. Secara khusus kita bersimpuh dihadapan Alloh untuk menyampaikan 8 permohonan kepada Nya.</p>
<table style="text-align:justify;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="564">
<tbody>
<tr>
<td width="288" valign="top">
<ul>
<li><em>Rabbighfirlii</em> (ampuni aku)</li>
<li><em>Warhamnii</em> (sayangi aku)</li>
<li><em>Wajburnii </em>(tutupi aib-aibku)
<ul>
<li><em>Warfa’nii</em> (beri aku rizki)</li>
<li><em>Warzuqnii</em> (beri aku rizki)</li>
<li><em>Wahdinii </em>(beri aku petunjuk)</li>
<li><em>Wa’afinii</em> (sehatkan aku)</li>
<li><em>Wa’fuanii</em> (maafkan aku)</li>
</ul>
</li>
</ul>
</td>
<td width="276" valign="top"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-align:justify;">Ketika itu, sesungguhnya kita sedang berdialog dengan Alloh. Dari setiap apa yang kita minta sesungguhnya Alloh memberikan jawaban atas permohonan atau do’a kita tersebut sebagaimana firman-Nya :</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. <strong>Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku</strong>, maka hendaklah, mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”. </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>(QS Al Baqarah [2] : 186)</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Dan Tuhanmu berfirman : “<strong>Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Ku perkenankan bagimu</strong>. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku [1326] akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina dina” (QS Al Mu’min [40] : 60)</em></p>
<p style="text-align:justify;">Yang menjadi permasalahan dan pertanyaan adalah apakah kita pernah merasakan jawaban atau respon Allah tersebut ? Hampir kita tidak pernah merasakannya sehingga kadang muncul sangkaan, bahwa Allah tidak mendengar do’a kita, bahkan mungkin merasa do’a kita tidak sampai ke Alloh. Ada juga yang berpendapat, bahwa hanya do’a orang-orang yang suci hatinya setingkat nabi atau minimal wali, yang didengar oleh Alloh. Padahal kita semua tahu, bahwa Allah Maha Mendengar. Maha Dekat dan Maha Pengabul Do’a, tapi seberapakah percayanya kita ?</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>KOMUNIKASI DUA ARAH</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sebenarnya kalau kita perhatikan, permasalahannya bukan kepada apakah Alloh menjawab do’a ataupun menyambut dialog kita ketika sedang shalat, tetapi lebih kepada sikap kita dalam berkomunikasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam sebuah dialog, maka akan terjadi komunikasi timbal balik. Ketika si A berkata seyogyanya si B mendengarkan. Setelah selesai, maka si B akan menjawab atau mem-berikan tanggapan dan si A ganti yang mendengarkan dengan seksama jawaban si B. Jika satu pihak hanya asyik berbicara sendiri tanpa mempedulikan lawan bicaranya, maka akan terjadi dialog yang timpang. Pihak yang syik berbicara sendiri tidak akan mendapat jawaban pertanyaan solusi atas permasalahan yang diutarakan ataupun respek dari lawan bicaranya.</p>
<p style="text-align:justify;">Hal ini seringkali terjadi dlm shalat dan do’a kita. Ketika kita shalat atau berdo’a. Kita asyik membaca bacaan shalat atau bacaan do’a yang telah kita hafal. Sering kali bacaan shalat atau do’a dilafadzkan dengan cepat tanpa kita sadari maknanya. Seolah-olah bacaan shalat yang terdiri dari pujian dan permohonan itu adalah mantra atau aba-aba saja.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika kita berdo’a saat duduk diantara dua sujud, kita mengucapkannya dengan cepat. “<em>Rabbighfirlii, warhamnii, wajburnii, warfa’nii, warzuqnii, wahdinii, wa’afinii, wa’fuanii”. </em>Delapan permohonan kita sampaikan tanpa jeda. Lalu tanpa basa-basi kita langsung sujud. Seolah-olah kita tidak butuh dengan apa yang kita mohonkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Andaikan bacaan itu kita terjemahkan dalam bahasa Indonesia, lalu kita sampaikan permintaan yang kira-kira sama bentuknya kepada Presiden RI, tentu akan lain ceritranya.</p>
<p style="text-align:justify;">Pak Presiden, ampuni kesalahan saya &#8230; (<em>sambil melihat ekspresi wajahnya dengan harap-harap cemas, mudah-mudahan Beliau tidak marah dan tersenyum</em>) Sayangi rakyatmu ini &#8230; (<em>sambil membungkuk mengharapkan Presien membelai kepala dan pundak kita</em>) Mohon Paduka naikkan pangkat dan jabatan saya &#8230; (<em>sambil kita menggenggam erat tangan presiden</em>)</p>
<p style="text-align:justify;">Coba bandingkan dengan sikap kita ketika berdo’a. Betapa seringkali kita menyepelekan Alloh. Mentang-mentang Alloh tidak kelhatan, kita suka bersikap seenaknya. Dalam kondisi ini pun sebenarnya Alloh selalu merespon pujian dan permohonan kita, karena Dia Maha Dekat, Maha Pemaaf, Maha Tahu, Maha Cepat dan selalu menepati janji-Nya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebenarnya dengan sikap yang tidak patut itu, kita sendiri yang rugi. Kita tidak mampu lagi menangkap jawaban Alloh atas doa kita, karena kita terlalu sibuk dan terburu-buru ketika menyampaikan permintaan. Lalu setelah menyampaikannya, kita langsung saja meninggalkan Alloh. Kita tidak peduli ketika Alloh memberikan jawaban-Nya. Kita banyak meminta, tetapi tidak mempersiapkan diri untuk menerima apa yang kita minta. Bagaimana cara kita berdo’a dijelaskan secara singkat di dalam Al Qur’an.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan <strong>berendah diri dan suara yang lembut</strong>.Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdo’alah kepada-Nya dengan <strong>rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan).</strong> Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik”.  (QS Al A’raaf [7] : 55-56).</em></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam berdo’a kita harus merendahkan hati dan santun dalam menyampaikan. Kita perlu menyadari, bahwa hanya Alloh-lah yang bisa mengabulkan do’a kita. Jangan berfikir jawaban Allah akan berupa kata-kata seperti halnya kita berbicara dengan sesama manusia. Jawaban Alloh bukanlah berupa kata, suara ataupun tulisan. Misalnya, kita mengalami kesulitan keuangan. Jika kita memohon rejeki kepada Alloh, tidak serta merta lalu ada sejumlah uang disebelah kita atau ada orang yang datang memberikan sejumlah uang atau muncul gambaran yang menyatakan dimana ada harta karun. Yang umum terjadi adalah beban di dada dan kekalutan pikiran yang timbul akibat kesulitan keuangan tersebut diangkat terlebih dulu oleh Alloh. Sesaat setelah selesai kita berdo’a, kita tetap tidak punya uang, tetapi hati kita terasa lapang. Beban masalah seolah-olah hilang begitu saja. Dengan pikiran yang jernih, ilham akan lebih mudah diterima. Hati yang lapang membuat wajah bersinar, menyenangkan orang yang memandang. Selanjutnya secara bertahap dan pasti, rejeki datang dari arah yang tidak disangka-sangka. “Tangan-tangan” Alloh bergerak sedemikian halus sehingga ketika masalah tersebut telah dapat diatasi, kita sering lupa bahwa kita pernah berdo’a kepada Alloh untuk itu.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;">LATIHAN 7</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Duduklah seperti duduk diantara dua sujud (duduk <em>i’tiraj</em>). Leremkan tubuh dan tundukkan hati dan pikiran. Dengan rendah hati,</p>
<p style="text-align:justify;">sampaikanlah permohonan ampun kepada Alloh :</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Rabbighfirlii (ampuni aku)</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Diam sejenak. Buka dada dan diri Anda untuk menerima ampunan Alloh seperti Anda membuka diri ketika merasakan hembusan angin sepoi-sepoi atau menerima curahan air hujan ketika masih kecil.</p>
<p style="text-align:justify;">Jika Anda tidak merasakan sesuatu di dada Anda tidak mengapa, mungkin Anda kurang sensitif, tapi tetaplah membuka diri Anda untuk menerima ampunan Alloh.</p>
<p style="text-align:justify;">Ulangi permintaan beberapa kali sampai Anda merasa tenang.</p>
<p style="text-align:justify;">Berikutnya sampaikanlah permintaan kedua :</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Warhamnii (sayangi aku)</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Diam dan tundukkanlah diri Anda untuk menerima kasih sayang Alloh yang tak terkira besarnya. Bukalah dada Anda seluas-luasnya agar semakin banyak kasih sayang Alloh yang Anda terima.</p>
<p style="text-align:justify;">Ulangi beberapa kali sampai Anda merasa cukup.</p>
<p style="text-align:justify;">Berturut-turut sampaikanlah permintaan-permintaan berikut dengan cara sebagaimana tersebut di atas, satu persatu-satu :</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Wajburnii (tutupi aib-aibku)</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Warfa’nii (angkat derajatku)</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Warzuqnii (beri aku rizki)</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Wahdinii (beri aku petunjuk)</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Wa’afinii (sehatkan aku)</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Wa’fuani (maafkan aku)</em></strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Setelah selesai, diamlah sejenak lalu sampaikan rasa syukur kita</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>STOP !</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Jangan melanjutkan membaca sebelum melakukan latihan di atas.</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Mudah-mudahan Anda dapat merasakan respon dari Alloh atas permohonan yang disampaikan di atas. Jika tidak, bukan berarti Alloh tidak menjawab do’a kita, tetapi kita yang tidak dapat menangkap respon-Nya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>PERJALANAN MASIH PANJANG</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kita telah sampai dipenghujung latihan kita. Apa yang baru kita pelajari, hanyalah sebuah gerbang untuk mendekatkan diri kepada Alloh SWT. Latihan-latihan yang baru kita lakukan hanyalah latihan bagaimana untuk bersikap ketika menghadap Alloh. Kita belum membahas masalah kemana kita menghadap diri kepada Alloh ? Dimanakah Alloh ? Yang manakah diri kita yang sejati ? Dimanakah ruh kita ?</p>
<p style="text-align:justify;">Kekhusyu’an dalam sholat akan bertambah jika kita semakin mengenal Alloh dan beriman kepada-Nya. Khusyu juga akan berkembang jika kita telah mengenal diri kita yang sejati. Suasana khusyu akan berubah sesuai dengan tuntunan yang Allah berikan kepada kita. Ada saat dimana kita menangis ketika shalat. Di saat lain, kita bisa mendapatkan ketenangan atau kebahagiaan yang luar biasa. Ada saat dimana tubuh merinding atau bergetar. Jika itu terjadi janganlah Anda takut. Adapula masanya dimana kita tidak merasakan apa-apa. Jika itu terjadi pula Anda bingung.</p>
<p style="text-align:justify;">Perjalanan spiritual masih sangat panjang. Kita tidak boleh puas dan berhenti ketika sampai disatu titik saja, tetapi harus maju dan siap berubah. Janganlah mencari apa yang kita pernah rasakan sebelumnya, karena itu akan menghentikan perjalanan kita juga akan menyebabkan kita lupa dengan tujuan kita semula, yaitu mendekatkan diri kepada Alloh. Kita menjadi sibk mencari rasa atau sensasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Datanglah selalu kepada Alloh dengan berserah diri dan tanpa persepsi. Terimalah apa yang Alloh berikan kepada kita. Jika diberi rasa khusyu terimalah. Jika diberi rasa tenang, syukurilah. Jika merasa tidak diberi rasa apa-apa, pertajam pengamatan Anda, karena bisa jadi itu adalah sebuah pengajaran baru dari Alloh. Jangan sampai Anda lengah.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk pemahaman yang lebih tajam dalam mengenai masalah ketuhanan Anda dapat membaca buku-buku tulisan ustadz Abu Sangkan, seperti : “Berguru kepada Alloh” dan “Spiritual Salah Kaprah” yang baru saja diterbitkan. Tulisan Beliau yang dimuat di <a href="http://www.dzikrullah.com/">www.dzikrullah.com</a> juga sangat baik untuk membuka wawasan kita dalam hidup berketuhanan. Selain itu buku sahabat saya, Yusdeka Putra, yang berjudul “Membuka Ruang Spiritual” merupakan buku menarik yang patut Anda baca.</p>
<p style="text-align:justify;">Sekarang saatnya Anda dapat mencoba mempraktekkan hasil latihan dengan melakukan shalat sunnat 2 rakaat. Lakukanlah shalat dengan tenang dan santai. Ucapkanlah bacaan shalat sebagaimana Anda sedang berdialog dengan-Nya. Bersikaplah merendah dan santun selama sholat, karena sesungguhnya kita sedang berhadapan dengan-Nya.</p>
<p style="text-align:justify;">Mudah-mudahan kita semua selalu dalam tuntunan dan perlindungan-Nya.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><em>Wabillahi taufiq wal hidayah</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Wassalamu’alaikum Wr. Wb.</em></p>
<p style="text-align:justify;">(Oleh : Ustadz Mardibros (intl.), <em>Bekasi Islamic Center)</em></p>
<p style="text-align:justify;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/raisyadila.wordpress.com/490/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/raisyadila.wordpress.com/490/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/raisyadila.wordpress.com/490/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/raisyadila.wordpress.com/490/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/raisyadila.wordpress.com/490/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/raisyadila.wordpress.com/490/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/raisyadila.wordpress.com/490/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/raisyadila.wordpress.com/490/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/raisyadila.wordpress.com/490/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/raisyadila.wordpress.com/490/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/raisyadila.wordpress.com/490/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/raisyadila.wordpress.com/490/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/raisyadila.wordpress.com/490/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/raisyadila.wordpress.com/490/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisyadila.wordpress.com&amp;blog=4206267&amp;post=490&amp;subd=raisyadila&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://raisyadila.wordpress.com/2009/11/13/sholat-khusu-itu-mudah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0fa01587e5869bcd7872b1a5acb3b6cf?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">raisyadila</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ya Alloh&#8230; Terima kasih</title>
		<link>http://raisyadila.wordpress.com/2009/11/11/ya-alloh-terima-kasih/</link>
		<comments>http://raisyadila.wordpress.com/2009/11/11/ya-alloh-terima-kasih/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Nov 2009 12:26:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>raisyadila</dc:creator>
				<category><![CDATA[Curhat]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://raisyadila.wordpress.com/?p=483</guid>
		<description><![CDATA[Saat putraku, dhika, sudah kelas TK besar&#8230; yang ada dikepalaku, akan di sekolahkan kemana anakku setelah TK? Sekolah dasar di daerah kami memang banyak. Tapi saya dan suami tidak ingin sekedar menyekolahkan buah hati kami, hanya untuk menggugurkan kewajiban kami untuk menyekolahkan mereka. Kamipun mencari dan meminta rekomendasi teman dan kerabat mengenai SD yang bagus. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisyadila.wordpress.com&amp;blog=4206267&amp;post=483&amp;subd=raisyadila&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Saat putraku, dhika, sudah kelas TK besar&#8230; yang ada dikepalaku, akan di sekolahkan kemana anakku setelah TK? Sekolah dasar di daerah kami memang banyak. Tapi saya dan suami tidak ingin sekedar menyekolahkan buah hati kami, hanya untuk menggugurkan kewajiban kami untuk menyekolahkan mereka.<span id="more-483"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Kamipun mencari dan meminta rekomendasi teman dan kerabat mengenai SD yang bagus. Kami disudutkan dengan 2 pilihan : mau SDN tapi harus  sekolah agama disore hari nya, atau SDIT tapi sekolahnya sampai sore?</p>
<p style="text-align:justify;">Kami ingin buah hati kami tumbuh dalam didikan dan bimbingan yang seimbang antara rumah dan sekolah. Saling mendukung. Akhirnya kami antusias memasukan dhika ke SDIT. Tapi kami tidaklah serta merta memutuskan sendiri, kami coba perkenalkan SDIT-SDIT yang menjadi pilihan kami. Kami biarkan dhika menilai dan memutuskan apa yang terbaik untuk dirinya. Biar bagaimanapun kelak  yang akan menjalankan adalah dhika sendiri, kami sebagi orangtuanya hanya mampu mendorong dan mendukungnya dari belakang.</p>
<p style="text-align:justify;">Akhirnya&#8230; jatuhlah pilihanya ke SDIT Insantama.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah menjalani beberapa test masuk sekolah&#8230;Alhamdulillah dhika-pun keterima menjadi siswa SDIT Insantama.</p>
<p style="text-align:justify;">Subhanalloh&#8230;. kami tidak menyangka, baru beberapa minggu dhika sekolah, tapi sudah banyak perubahan yang kami rasakan. Terutama&#8230;. dalam sholat 5 waktu (subuh, dzuhur, ashar, maghrib, &amp; isya). Bacaanya sudah bagus  dan lancar&#8230;sholatnya pun sudah tidak bolong-bolong lagi. Alhamdulillah&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika Romadhon pun&#8230;Alhamdulillah dhika dan adiknya yang masih TK besar, Laras, puasanya bisa sampai maghrib selama sebulan penuh (kalo kata urang sunda mah cacab puasana). Orang tua mana yang tidak akan bangga melihat buah hatinya yang sholih dan sholihah?</p>
<p style="text-align:justify;">Ya Alloh&#8230;.nikamt-Mu yang mana lagi yang harus didustakan?&#8230; Tidak ada! Sungguh besar rahmat, berkah dan hidayah-Mu bagi kami semua. Sesungguhnya semua ini terjadi karena hidayah-Mu. Karena Kehendak-Mu. Karena ridho-mu bagi kami semua. Melihat dan merasakan ini semua&#8230; semakin membuat kami malu jika tidak mampu mensyukuri apa yang telah Engkau berikan kepada kami. Engkau yang Maha Sempurna dan Maha Penyempurna Nikmat dan Karunia-Mu. Hanya Alloh swt-lah Sang Pemilik Arsy Yang Agung. Tiada sekutu bagi-Mu. Sungguh hanya kepada-Mu-lah tempat kami mengadu, tempat kami berkeluh kesah, tempat kami memohon pertolongan. Dan hanya kepada-Mu-lah tempak kami kembali dan Hanya Engkau-lah sebaik-baik penolong dalam hidup kami.</p>
<p style="text-align:justify;">Ya Alloh kokohkanlah hati kami untuk tetap selalu memuja-Mu, bermuhasabah hanya kepada-Mu. Amiin.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/raisyadila.wordpress.com/483/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/raisyadila.wordpress.com/483/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/raisyadila.wordpress.com/483/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/raisyadila.wordpress.com/483/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/raisyadila.wordpress.com/483/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/raisyadila.wordpress.com/483/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/raisyadila.wordpress.com/483/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/raisyadila.wordpress.com/483/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/raisyadila.wordpress.com/483/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/raisyadila.wordpress.com/483/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/raisyadila.wordpress.com/483/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/raisyadila.wordpress.com/483/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/raisyadila.wordpress.com/483/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/raisyadila.wordpress.com/483/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisyadila.wordpress.com&amp;blog=4206267&amp;post=483&amp;subd=raisyadila&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://raisyadila.wordpress.com/2009/11/11/ya-alloh-terima-kasih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0fa01587e5869bcd7872b1a5acb3b6cf?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">raisyadila</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Met Ultah ya Naak&#8230;</title>
		<link>http://raisyadila.wordpress.com/2009/11/02/met-ultah-ya-naak/</link>
		<comments>http://raisyadila.wordpress.com/2009/11/02/met-ultah-ya-naak/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Nov 2009 08:16:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>raisyadila</dc:creator>
				<category><![CDATA[Curhat]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[diary]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://raisyadila.wordpress.com/?p=477</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah&#8230;. sekarang anak mama sudah semakin cerdas. Usiamu sudah bertambah 1 tahun lho de&#8230;  Kini usiamu sudah genap 2 tahun. Semoga berkah dan rahmat Alloh azza wa jalla senantiasa tercurah bagimu. InsyaAlloh, mama tidak akan putus berdo&#8217;a kepada alloh demi kesuksesan kehidupanmu kelak di dunia dan akhirat. Amiin&#8230;. Semakin hari dede dila semakin cerdas dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisyadila.wordpress.com&amp;blog=4206267&amp;post=477&amp;subd=raisyadila&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Alhamdulillah&#8230;. sekarang anak mama sudah semakin cerdas. Usiamu sudah bertambah 1 tahun lho de&#8230;  Kini usiamu sudah genap 2 tahun. Semoga berkah dan rahmat Alloh azza wa jalla senantiasa tercurah bagimu. InsyaAlloh, mama tidak akan putus berdo&#8217;a kepada alloh demi kesuksesan kehidupanmu kelak di dunia dan akhirat. Amiin&#8230;.<span id="more-477"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Semakin hari dede dila semakin cerdas dan lucu. Sholatnya diperbaiki lagi ya naak&#8230; lihat aa dan teteh,  semakin hari aa dan teteh juga semakin baik sholatnya.</p>
<p style="text-align:center;">&#8220;Ya Alloh&#8230; hanya engkau-lha yang amapu menjaga ketiga buah hatiku setiap saat, aku bisa lengah, suamiku juga. Wahai yang Maha Sempurna dan Maha Penyempurna nikamat dan karunia-Nya&#8230; hamba memohon kepadamu atas penjagaan hati, pikiran dan jiwa putra-puti kami dari kemaksiatan. Teguhkanlah iman ketiganya. Sesungguhnya hanya kepada Mu-lha kami menyembah dan hanya kepada Mu-lha kami memohon pertolongan dan hanya Engkau lha satu2nya penolong terbaik bagi hidup kami. &#8220;</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/raisyadila.wordpress.com/477/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/raisyadila.wordpress.com/477/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/raisyadila.wordpress.com/477/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/raisyadila.wordpress.com/477/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/raisyadila.wordpress.com/477/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/raisyadila.wordpress.com/477/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/raisyadila.wordpress.com/477/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/raisyadila.wordpress.com/477/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/raisyadila.wordpress.com/477/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/raisyadila.wordpress.com/477/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/raisyadila.wordpress.com/477/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/raisyadila.wordpress.com/477/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/raisyadila.wordpress.com/477/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/raisyadila.wordpress.com/477/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisyadila.wordpress.com&amp;blog=4206267&amp;post=477&amp;subd=raisyadila&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://raisyadila.wordpress.com/2009/11/02/met-ultah-ya-naak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0fa01587e5869bcd7872b1a5acb3b6cf?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">raisyadila</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PUDING  COKLAT MAIZENA</title>
		<link>http://raisyadila.wordpress.com/2009/10/28/puding-coklat-maizena/</link>
		<comments>http://raisyadila.wordpress.com/2009/10/28/puding-coklat-maizena/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Oct 2009 23:40:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>raisyadila</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resep]]></category>
		<category><![CDATA[Puding]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://raisyadila.wordpress.com/?p=475</guid>
		<description><![CDATA[Bahan : 500 ml susu cair coklat 30 gr maizena 150 gr gula pasir 2 bks agar-agar putih 4 butir kuning telur 250 gr coklat masak, dicairkan Cara Membuat : 1. Masaklah susu bersama maizena dan gula pasir sambil terus diaduk hingga meletup-letup. 2. Tambahkan kuning telur dan aduk teru di atas api. 3. Masukkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisyadila.wordpress.com&amp;blog=4206267&amp;post=475&amp;subd=raisyadila&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Bahan :</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">500 ml susu cair coklat</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">30 gr maizena</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">150 gr gula pasir</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">2 bks agar-agar putih</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">4 butir kuning telur</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">250 gr coklat masak, dicairkan<span id="more-475"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Cara Membuat :</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"><span>1.<span style="font:7pt &quot;"> </span></span></span><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Masaklah susu bersama maizena dan gula pasir sambil terus diaduk hingga meletup-letup.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span style="font-family:&quot;"><span>2.<span style="font:7pt &quot;"> </span></span></span><span style="font-family:&quot;">Tambahkan kuning telur dan aduk teru di atas api.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span style="font-family:&quot;"><span>3.<span style="font:7pt &quot;"> </span></span></span><span style="font-family:&quot;">Masukkan agr-agar yang telah dilarutkan di dalam air dingin sambil terus diaduk.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"><span>4.<span style="font:7pt &quot;"> </span></span></span><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Masukkan coklat masak cair sambil diaduk rata.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"><span>5.<span style="font:7pt &quot;"> </span></span></span><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Tuangkan adonan ke dalam cetakan yang bagian tengahnya berlubang. Biarkan dingin dan membeku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:12pt 0;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">(</span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">diambil dari buku Aneka Puding dan Minuman Istimewa karya Ibu Sinyo M.K.</span><span style="font-family:&quot;" lang="SV">)</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/raisyadila.wordpress.com/475/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/raisyadila.wordpress.com/475/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/raisyadila.wordpress.com/475/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/raisyadila.wordpress.com/475/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/raisyadila.wordpress.com/475/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/raisyadila.wordpress.com/475/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/raisyadila.wordpress.com/475/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/raisyadila.wordpress.com/475/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/raisyadila.wordpress.com/475/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/raisyadila.wordpress.com/475/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/raisyadila.wordpress.com/475/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/raisyadila.wordpress.com/475/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/raisyadila.wordpress.com/475/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/raisyadila.wordpress.com/475/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisyadila.wordpress.com&amp;blog=4206267&amp;post=475&amp;subd=raisyadila&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://raisyadila.wordpress.com/2009/10/28/puding-coklat-maizena/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0fa01587e5869bcd7872b1a5acb3b6cf?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">raisyadila</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PUDING KARAMEL</title>
		<link>http://raisyadila.wordpress.com/2009/10/28/puding-karamel/</link>
		<comments>http://raisyadila.wordpress.com/2009/10/28/puding-karamel/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Oct 2009 23:38:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>raisyadila</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resep]]></category>
		<category><![CDATA[Puding]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://raisyadila.wordpress.com/?p=473</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Bahan : 6 butir kuning telur 1 ltr susu cair 200 gr gula pasir ½ sdt garam ½ sdt essens vanili 4 butir telur Karamel : 300 gr gula pasir 100 ml air 1 sdm air jeruk nipis Cara Membuat : 1. Masaklah gula pasir bersama air dan perasan jeruk nipis hingga menjadi karamel. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisyadila.wordpress.com&amp;blog=4206267&amp;post=473&amp;subd=raisyadila&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<div class="Section1">
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="SV">Bahan :</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="SV">6 butir kuning telur</span></p>
</div>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">1 ltr susu cair</span></p>
<div class="Section2">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">200 gr gula pasir</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">½ sdt garam</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">½ sdt essens vanili</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">4 butir telur<span id="more-473"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Karamel :</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">300 gr gula pasir</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">100 ml air</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">1 sdm air jeruk nipis</span></p>
</div>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="SV"><br style="page-break-before:always;" /> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="SV">Cara Membuat</span></span></strong><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="SV"> :</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="SV"><span>1.<span style="font:7pt &quot;"> </span></span></span><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="SV">Masaklah gula pasir bersama air dan perasan jeruk nipis hingga menjadi karamel.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="SV"><span>2.<span style="font:7pt &quot;"> </span></span></span><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="SV">Olesi pinggan tahan panas dengan mentega, tuang karamel selagi panas, biarkan hingga mengeras.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="SV"><span>3.<span style="font:7pt &quot;"> </span></span></span><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="SV">Campur susu, gula pasir, kuning telur dan vanili. Masak, tidak perlu hingga mendidih, angkat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="SV"><span>4.<span style="font:7pt &quot;"> </span></span></span><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="SV">Kocok telur tapi tidak sampai mengembang, masukkan susu hangat, lalu saring.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="SV"><span>5.<span style="font:7pt &quot;"> </span></span></span><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="SV">Tuangkan adonan dalam pinggan berisi karamel, taruh dalam loyang berisi air.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="SV"><span>6.<span style="font:7pt &quot;"> </span></span></span><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="SV">Panggang dalam oven bersuhu 100C selama 1 ½ jam hingga matang dan padat. Biarkan dingin lalu keluarkan dari cetakan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:12pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">(</span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">diambil dari buku Aneka Resep karya Ny. </span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Dewi Suharsono</span><span style="font-family:&quot;">)</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/raisyadila.wordpress.com/473/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/raisyadila.wordpress.com/473/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/raisyadila.wordpress.com/473/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/raisyadila.wordpress.com/473/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/raisyadila.wordpress.com/473/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/raisyadila.wordpress.com/473/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/raisyadila.wordpress.com/473/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/raisyadila.wordpress.com/473/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/raisyadila.wordpress.com/473/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/raisyadila.wordpress.com/473/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/raisyadila.wordpress.com/473/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/raisyadila.wordpress.com/473/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/raisyadila.wordpress.com/473/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/raisyadila.wordpress.com/473/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisyadila.wordpress.com&amp;blog=4206267&amp;post=473&amp;subd=raisyadila&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://raisyadila.wordpress.com/2009/10/28/puding-karamel/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0fa01587e5869bcd7872b1a5acb3b6cf?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">raisyadila</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PUDING SUTRA</title>
		<link>http://raisyadila.wordpress.com/2009/10/28/puding-sutra/</link>
		<comments>http://raisyadila.wordpress.com/2009/10/28/puding-sutra/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Oct 2009 23:36:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>raisyadila</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resep]]></category>
		<category><![CDATA[Puding]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://raisyadila.wordpress.com/?p=471</guid>
		<description><![CDATA[Bahan : 2 bks agar-agar putih 1 kaleng susu kental manis putih 9 gelas air putih Saus : 5 bks (saset) nutrisari jeruk dilarutkan dalam 150 ml air 1 bks primarasa es buah Cara Membuat : 1. Masaklah agar-agar bersama susu dan air hingga mendidih. 2. Tuang kedalam cetakan, biarkan dingin dan membeku. 3. Potong-potong [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisyadila.wordpress.com&amp;blog=4206267&amp;post=471&amp;subd=raisyadila&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="Section1"></div>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="SV">Bahan :</span></span></strong></p>
<div class="Section2">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="SV">2 bks agar-agar putih</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">1 kaleng susu kental manis putih</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">9 gelas air putih<span id="more-471"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="SV">Saus :</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="SV">5 bks (saset) nutrisari jeruk dilarutkan dalam 150 ml air</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="SV">1 bks primarasa es buah</span></p>
</div>
<p><strong><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="SV"><br style="page-break-before:always;" /> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="SV">Cara Membuat</span></span></strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="SV"> :</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="SV"><span>1.<span style="font:7pt &quot;"> </span></span></span><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="SV">Masaklah agar-agar bersama susu dan air hingga mendidih.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="NL"><span>2.<span style="font:7pt &quot;"> </span></span></span><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="NL">Tuang kedalam cetakan, biarkan dingin dan membeku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="NL"><span>3.<span style="font:7pt &quot;"> </span></span></span><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="NL">Potong-potong puding dan biarkan dalam cetakannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="SV"><span>4.<span style="font:7pt &quot;"> </span></span></span><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="SV">Tuangi puding dengan air nutrisari dan es buah primarasa. Simpan dalam kulkas dan sajikan dingin.</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/raisyadila.wordpress.com/471/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/raisyadila.wordpress.com/471/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/raisyadila.wordpress.com/471/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/raisyadila.wordpress.com/471/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/raisyadila.wordpress.com/471/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/raisyadila.wordpress.com/471/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/raisyadila.wordpress.com/471/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/raisyadila.wordpress.com/471/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/raisyadila.wordpress.com/471/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/raisyadila.wordpress.com/471/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/raisyadila.wordpress.com/471/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/raisyadila.wordpress.com/471/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/raisyadila.wordpress.com/471/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/raisyadila.wordpress.com/471/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisyadila.wordpress.com&amp;blog=4206267&amp;post=471&amp;subd=raisyadila&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://raisyadila.wordpress.com/2009/10/28/puding-sutra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0fa01587e5869bcd7872b1a5acb3b6cf?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">raisyadila</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PUDING BUSA JERUK</title>
		<link>http://raisyadila.wordpress.com/2009/10/28/puding-busa-jeruk/</link>
		<comments>http://raisyadila.wordpress.com/2009/10/28/puding-busa-jeruk/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Oct 2009 23:34:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>raisyadila</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resep]]></category>
		<category><![CDATA[Puding]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://raisyadila.wordpress.com/?p=469</guid>
		<description><![CDATA[Bahan : 2 bks agar-agar putih 5 butir putih telur 2 gelas air 100 gr gula pasir Pewarna orange Sedikit Perasa (esens) jeruk 5 bks Nutrisari orange/jeruk (saset) Bahan Saus (vla) : 500 ml susu putih cair 2 sdm tepung maizena 150 gr gula pasir 2 butir kuning telur Vanili secukupnya Rum secukupnya (selera) Cara [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisyadila.wordpress.com&amp;blog=4206267&amp;post=469&amp;subd=raisyadila&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="Section1"></div>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Bahan :</span></span></strong></p>
<div class="Section2">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">2 bks agar-agar putih</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">5 butir putih telur</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">2 gelas air </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="SV">100 gr gula pasir</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="SV">Pewarna orange</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="SV">Sedikit Perasa (esens) jeruk</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="SV">5 bks Nutrisari orange/jeruk (saset)<span id="more-469"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Bahan Saus (vla) :</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">500 ml susu putih cair</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">2 sdm tepung maizena</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">150 gr gula pasir</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="SV">2 butir kuning telur</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="SV">Vanili secukupnya</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="SV">Rum secukupnya (selera)</span></p>
</div>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="SV"><br style="page-break-before:auto;" /> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="SV">Cara Membuat :</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="SV"><span>1.<span style="font:7pt &quot;"> </span></span></span><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="SV">Masaklah agar-agar bersama air dan gula pasir hingga mendidih. Sementara<span> </span>itu, kocok kaku putih telur. Tuangkan adonan agar-agar selagi panas ke dalam kocokan putih telur. Kocok cepat dan merata sambil dibubuhi nutrisari dan esens jeruk.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="SV"><span>2.<span style="font:7pt &quot;"> </span></span></span><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="SV">Tuangkan adonan dalam cetakan, lalu biarkan membeku dan dingin. Lalu potong-potong dan sajikan dengan siraman vla di atasnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"><span>3.<span style="font:7pt &quot;"> </span></span></span><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="SV">Vla :</span></span></strong><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="SV"> Masaklah susu bersama maizena, dan gula pasir sambil diaduk hingga mendidih. Tuang kuining telur (yang sudah dikocok sebentar) ke dalam adonan. Aduk hingga merata. Bubuhi vanili dan aduk rata hingga adonan mendidih kembali, angkat dan biarkan dingin. Apabila suka bisa dibubuhi rum</span><span style="font-family:&quot;" lang="SV">.</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/raisyadila.wordpress.com/469/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/raisyadila.wordpress.com/469/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/raisyadila.wordpress.com/469/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/raisyadila.wordpress.com/469/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/raisyadila.wordpress.com/469/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/raisyadila.wordpress.com/469/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/raisyadila.wordpress.com/469/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/raisyadila.wordpress.com/469/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/raisyadila.wordpress.com/469/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/raisyadila.wordpress.com/469/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/raisyadila.wordpress.com/469/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/raisyadila.wordpress.com/469/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/raisyadila.wordpress.com/469/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/raisyadila.wordpress.com/469/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisyadila.wordpress.com&amp;blog=4206267&amp;post=469&amp;subd=raisyadila&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://raisyadila.wordpress.com/2009/10/28/puding-busa-jeruk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0fa01587e5869bcd7872b1a5acb3b6cf?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">raisyadila</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PUDING  KACANG HIJAU</title>
		<link>http://raisyadila.wordpress.com/2009/10/28/puding-kacang-hijau/</link>
		<comments>http://raisyadila.wordpress.com/2009/10/28/puding-kacang-hijau/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Oct 2009 23:32:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>raisyadila</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resep]]></category>
		<category><![CDATA[Puding]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://raisyadila.wordpress.com/?p=467</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Puding kacang hijau ini selain enak juga sangat cocok disajikan bagi anak-anak yang sulit mengkonsumsi protein nabati. Resep ini saya ambil dari majalah Sedap khusus pemula. Saya pun sudah mencobanya&#8230;. Alhamdulillah keluarga saya sangat menyukainya&#8230; Bahan : 150 gr kacang hijau 1 ltr air 2 lbr daun pandan 200 gr gula pasir 500 ml [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisyadila.wordpress.com&amp;blog=4206267&amp;post=467&amp;subd=raisyadila&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<div class="Section1">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="NL">Puding kacang hijau ini selain enak juga sangat cocok disajikan bagi anak-anak yang sulit mengkonsumsi protein nabati. Resep ini saya ambil dari majalah Sedap khusus pemula. Saya pun sudah mencobanya&#8230;. Alhamdulillah keluarga saya sangat menyukainya&#8230;<span id="more-467"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="NL">Bahan :</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="NL">150 gr kacang hijau</span></p>
</div>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="SV">1 ltr air</span></p>
<div class="Section2">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="SV">2 lbr daun pandan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="SV">200 gr gula pasir</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="SV">500 ml santan ( ½ <span> </span>butir kelapa)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="SV">2 bks agar-agar putih</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="SV">3 tetes pewarna hijau</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="SV">Bahan Saus (Vla)</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="SV">300 ml santan ( ½ <span> </span>butir kelapa)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="SV">75 gr gula pasir</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="SV">3 cm jahe, dimemarkan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">2 sdt tepung maizena</span></p>
</div>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"><br style="page-break-before:always;" /> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Cara Membuat :</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"><span>1.<span style="font:7pt &quot;"> </span></span></span><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Rebus kacang hijau, air, daun pandan, dan gula pasir sampai kacang hijau hancur. Angkat lalu dinginkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="SV"><span>2.<span style="font:7pt &quot;"> </span></span></span><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="SV">Tuang rebusan kacang hijau ke dalam blender lalu haluskan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="SV"><span>3.<span style="font:7pt &quot;"> </span></span></span><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="SV">Tambahkan santan dan agar-agar kemudian rebus sambil diaduk hingga mendidih.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="SV"><span>4.<span style="font:7pt &quot;"> </span></span></span><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="SV">Tambahkan ppewarna hijau lalu tuang ke dalam cetakan tulban (yang bundar &amp; tengahnya bolong) 22 cm.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="SV"><span>5.<span style="font:7pt &quot;"> </span></span></span><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="SV">Setelah dingin, angkat lalu potong-potong dan hidangkan dengan sausnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="SV"><span>6.<span style="font:7pt &quot;"> </span></span></span><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="SV">Saus :</span></span></strong><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="SV"> rebus semua bahan saus sambil diaduk hingga mendidih, angkat lalu dinginkan.</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/raisyadila.wordpress.com/467/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/raisyadila.wordpress.com/467/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/raisyadila.wordpress.com/467/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/raisyadila.wordpress.com/467/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/raisyadila.wordpress.com/467/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/raisyadila.wordpress.com/467/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/raisyadila.wordpress.com/467/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/raisyadila.wordpress.com/467/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/raisyadila.wordpress.com/467/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/raisyadila.wordpress.com/467/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/raisyadila.wordpress.com/467/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/raisyadila.wordpress.com/467/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/raisyadila.wordpress.com/467/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/raisyadila.wordpress.com/467/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisyadila.wordpress.com&amp;blog=4206267&amp;post=467&amp;subd=raisyadila&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://raisyadila.wordpress.com/2009/10/28/puding-kacang-hijau/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0fa01587e5869bcd7872b1a5acb3b6cf?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">raisyadila</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hikmah dibalik Musibah</title>
		<link>http://raisyadila.wordpress.com/2009/10/26/hikmah-dibalik-musibah/</link>
		<comments>http://raisyadila.wordpress.com/2009/10/26/hikmah-dibalik-musibah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Oct 2009 09:30:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>raisyadila</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://raisyadila.wordpress.com/?p=460</guid>
		<description><![CDATA[Bagi seorang muslim musibah dan bencana adalah merupakan salah satu ujian atas rasa sayang Alloh swt terhadap hamba-Nya.Lain halnya dengan orang durhaka atau kafir, mereka akan beranggapan bahwa datangnya bencana adalah merupakan azab dunia. Oleh karena hal tersebut, sudah menjadi kewajiban untuk kita sebagai seorang muslim untuk selalu dapat mengambil hikmah dibalik setiap musibah yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisyadila.wordpress.com&amp;blog=4206267&amp;post=460&amp;subd=raisyadila&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bagi seorang muslim musibah dan bencana adalah merupakan salah satu ujian atas rasa sayang Alloh swt terhadap hamba-Nya<span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="SV">.Lain halnya dengan orang durhaka atau kafir, mereka akan beranggapan bahwa datangnya bencana adalah merupakan azab dunia.<span id="more-460"></span></span></p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="SV">Oleh karena hal tersebut, sudah menjadi kewajiban untuk kita sebagai seorang muslim untuk selalu dapat mengambil hikmah dibalik setiap musibah yang terjadi.</span></p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="SV">Adapun hikmah yang dapat kita dibalik setiap musibah yang datang adalah :</span></p>
<ol>
<li><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="SV">jadikan musibah sebagai ujian dari Alloh swt.</span></li>
<li><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="SV">dengan musibah kita bisa melihat seberapa besar Kekuasaan Alloh azza wa jalla.</span></li>
</ol>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="SV">Mengapa Alloh murka kepada kaum jahiliyah :</span></p>
<ol>
<li><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="SV">karena mereka banyak meminta dan menyembah kepada selain Alloh</span></li>
<li><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="SV">karena mereka rusak dalam beribadah (bahkan mereka melakukan thowaf saja dengan bertelanjang)</span></li>
<li><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="SV">karena mereka tidak menerima ketentuan Alloh, diantaranya mereka membunuh anak2 perempuan yang lahir.</span></li>
</ol>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="SV">Lalu&#8230; apa yang harus kita lakukan jika kita tertimpa musibah ? Yang dapat kita lakukan adalah :</span></p>
<ul>
<li><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="SV">meminta hanys kepada Alloh azza wa jalla</span></li>
<li><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="SV">meningkatakan derajat keimanan kita dengan meningkatkan ibadah kita kepada Alloh swt</span></li>
<li><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="SV">senantiasa menerima segala ketentuan Alloh.</span></li>
</ul>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="SV">(</span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">disampaikan oleh Ustadz Mirwan</span><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="SV"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">dalam liqo minggu</span><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="SV">)</span><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/raisyadila.wordpress.com/460/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/raisyadila.wordpress.com/460/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/raisyadila.wordpress.com/460/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/raisyadila.wordpress.com/460/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/raisyadila.wordpress.com/460/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/raisyadila.wordpress.com/460/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/raisyadila.wordpress.com/460/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/raisyadila.wordpress.com/460/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/raisyadila.wordpress.com/460/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/raisyadila.wordpress.com/460/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/raisyadila.wordpress.com/460/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/raisyadila.wordpress.com/460/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/raisyadila.wordpress.com/460/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/raisyadila.wordpress.com/460/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=raisyadila.wordpress.com&amp;blog=4206267&amp;post=460&amp;subd=raisyadila&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://raisyadila.wordpress.com/2009/10/26/hikmah-dibalik-musibah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0fa01587e5869bcd7872b1a5acb3b6cf?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">raisyadila</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
